Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana pemerintah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi valuta asing (valas) untuk pasar domestik dinilai memiliki dampak positif terhadap pendalaman pasar keuangan sekaligus penguatan fundamental nilai tukar rupiah.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan kebijakan tersebut diharapkan dapat menarik dana devisa yang selama ini ditempatkan di luar negeri.
“Ini dimaksudkan sebagai pendalaman keuangan untuk mengakomodasi dana devisa dari warga negara Indonesia ataupun pelaku usaha Indonesia yang banyak ditempatkan di luar negeri,” ujar Myrdal kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
Menurut dia, penerbitan SBN valas domestik sejalan dengan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) yang baru, sehingga diharapkan mampu mendorong masuknya dana-dana valas ke dalam negeri. Dengan begitu, likuiditas valas domestik akan menjadi lebih berlimpah.
Selain itu, potensi tambahan pasokan valas juga dinilai akan menyeimbangkan tingginya permintaan valas domestik, terutama untuk kebutuhan pembayaran dividen, yang pada akhirnya dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bahkan mendorong penguatan.
Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Penerbitan SBN Valas Domestik pada 2026 untuk Menyerap DHE SDA
“Kalau likuiditas valas berlimpah, suplai valas kita juga kuat, ini bisa mengimbangi demand valas domestik dan pada akhirnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Myrdal menambahkan, secara fundamental rupiah sebenarnya memiliki basis yang kuat. Indonesia mencatatkan surplus transaksi berjalan yang konsisten, aliran investasi asing di pasar keuangan tetap terjaga, serta realisasi penanaman modal asing (FDI) yang masih cukup solid.
Dari sisi waktu penerbitan, Myrdal menilai periode April hingga Juli merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah untuk menerbitkan SBN valas domestik. Pasalnya, pada periode tersebut permintaan dolar domestik cenderung meningkat seiring musim pembagian dividen.
“Kita harapkan pada saat permintaan valas tinggi, ada suplai yang masuk dari pemilik dana Indonesia di luar negeri ataupun eksportir yang selama ini menempatkan dananya di luar negeri,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya imbal hasil SBN valas yang kompetitif, baik dibandingkan instrumen valas domestik maupun deposito dolar di luar negeri, agar mampu menarik minat investor.
Baca Juga: Pemerintah Rancang SBN Valas Domestik ala Tax Amnesty 2022 untuk Serap DHE SDA
Terkait strategi pembiayaan negara, Myrdal menilai kebijakan frontloading penerbitan SBN masih relevan dilakukan pada awal tahun, mengingat besarnya kebutuhan belanja pemerintah, termasuk pembayaran rutin dan momentum pengeluaran menjelang Lebaran seperti THR.
Sementara dari sisi penerimaan negara, Myrdal optimistis kinerja pajak dapat membaik seiring aktivitas ekonomi yang relatif terjaga. Ke depan, ia menyarankan pemerintah tetap memprioritaskan penguatan pasar domestik, namun dengan orientasi global.
“Fundamental domestik harus diperkuat, tapi kita juga harus produktif menghasilkan barang bernilai tambah, terutama dari manufaktur dan hilirisasi, agar ekspor kita lebih berkualitas,” katanya.
Ia menilai momentum kerja sama dagang, termasuk rencana implementasi IUSEPA serta hubungan dagang dengan Amerika Serikat, ASEAN, dan negara Asia lainnya, perlu dimanfaatkan untuk mendorong ekspor dan investasi.
Selain itu, upaya debottlenecking yang lebih efisien dinilai penting untuk menurunkan incremental capital output ratio (ICOR) dan meningkatkan produktivitas nasional.
Baca Juga: Surplus BI Diproyeksi Naik Imbas Kenaikan Kepemilikan SBN, Begini Perkiraan di 2026
Selanjutnya: Saham Prajogo Pangestu Masuk, Ini Daftar Lengkap Indeks LQ45 Berlaku 2 Februari 2026
Menarik Dibaca: Hujan Petir di Pagi Hari, Ini Prakiraan BMKG Cuaca Besok (27/1) di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













