Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di negara tetangga Indonesia, yakni Malaysia pada 1998.
Sejak saat itu, virus Nipah terus menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Niluh mengatakan, dampak virus Nipah terhadap kesehatan manusia sangat serius dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Oleh karena itu, virus Nipah perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan wabah yang memengaruhi kesehatan masyarakat, sosial, dan ekonomi.
Apalagi, hingga saat ini belum tersedia vaksin atau obat antivirus spesifik untuk virus Nipah.
Ini artinya, penanganan kasus sangat bergantung pada perawatan suportif, sementara pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko wabah.
"BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah.
Deteksi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya penularan jika virus berpindah ke manusia," jelas Niluh.
Pendekatan melalui One Health juga menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi virus Nipah.
Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam memantau serta mengendalikan penyakit zoonotik.
“Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis.
Baca Juga: OJK Pangkas Risiko Investasi! 8 Reformasi Pasar Modal Siap Meluncur
Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” ungkap Niluh.
Dia berharap, hasil riset yang dilakukan BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging.
Sebab, menurunya, penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia mampu menghadapi potensi ancaman virus Nipah.
Gejala virus Nipah
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), virus Nipah memiliki masa inkubasi 4-14 hari.
Setelah masa inkubasi, seseorang yang terinfeksi virus Nipah bakal menunjukkan beberapa gejala, seperti demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan nyeri tenggorokan.
Gejala virus Nipah juga diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut.
Jika pasien merasakan tanda dan gejala di atas, segera mengunjungi layanan medis untuk menerima pemeriksaan RT-PCR.
Baca Juga: Bappenas Sebut MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja, Ekonom: Bukan Apple to Apple













