kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Ekonom Proyeksikan Inflasi Tahunan Januari 2026 Berada di Kisaran 3,1%–3,3%


Senin, 02 Februari 2026 / 05:10 WIB
Ekonom Proyeksikan Inflasi Tahunan Januari 2026 Berada di Kisaran 3,1%–3,3%
ILUSTRASI. Proyeksi inflasi Januari 2026 melonjak 3,1%-3,3% yoy. Temukan komoditas pangan pemicu utama kenaikan harga. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memproyeksikan inflasi pada Januari 2026 secara tahunan (year on year/yoy) berada di kisaran 3,1%–3,3% yoy. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 0,76% yoy.

Meski demikian, secara bulanan (month to month/mtm) tekanan inflasi diperkirakan mulai mereda seiring berakhirnya momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penurunan permintaan musiman serta normalisasi harga sejumlah komoditas menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi di awal tahun.

“Secara historis, Januari memang cenderung lebih tenang dibandingkan Desember. Dengan pendekatan musiman, inflasi Januari 2026 diperkirakan berada di kisaran 0,05% hingga 0,35% mtm. Jika menggunakan skenario moderat, inflasi berada di sekitar 0,25%–0,30% mtm,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: Inflasi Tahunan Diprediksi Melonjak ke Level 3,74% YoY pada Januari 2026

Menurut Yusuf, setelah lonjakan permintaan pada periode Nataru, inflasi memang melandai. Hal ini disebabkan harga pangan yang masih sensitif terhadap faktor cuaca dan distribusi, serta mulai munculnya tekanan permintaan menjelang Ramadan.

Selain itu, dampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra berpotensi menahan penurunan harga pangan. Gangguan distribusi di daerah terdampak, dinilai dapat memicu penyesuaian harga yang kemudian merembet ke pasar nasional.

Memasuki kuartal I-2026, Yusuf memperkirakan arah inflasi kembali menguat secara bertahap dan masih bersifat musiman. Momentum Ramadan dan Idulfitri hampir selalu mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, terutama pada kelompok makanan dan minuman, transportasi, sandang, serta jasa.

Dengan pendekatan perhitungan sederhana, inflasi bulanan diperkirakan berada di sekitar 0,30% pada Januari, meningkat menjadi 0,35% pada Februari, dan melonjak lebih tinggi pada Maret yang bertepatan dengan Ramadan–Idulfitri di kisaran 0,55%–0,65% mtm.

"Secara kumulatif, inflasi pada kuartal I-2026 diproyeksikan mencapai sekitar 1,2%–1,4% secara kuartalan (quarter to quarter/qtq). Dengan mempertimbangkan basis inflasi tahun sebelumnya, inflasi tahunan kuartal I-2026 diperkirakan berada di kisaran 3,3%–3,6% yoy," ungkap Yusuf.

Baca Juga: Purbaya Bakal Rotasi 70 Pejabat Pajak, Ini Saran Pengamat!

Kenaikan inflasi tersebut menurutnya lebih mencerminkan pola musiman dan belum mengindikasikan lonjakan struktural, selama tidak terjadi kenaikan harga energi, gangguan pasokan yang ekstrem, maupun depresiasi nilai tukar rupiah yang tajam.

Adapun sumber utama tekanan inflasi pada kuartal I-2026 masih didominasi oleh komponen harga bergejolak (volatile food). Komoditas seperti beras, cabai, bawang, ayam, telur, dan daging dinilai sangat sensitif terhadap cuaca, distribusi, serta lonjakan permintaan selama Ramadan.

“Dari estimasi inflasi kumulatif kuartal I sekitar 1,25%, sekitar 45% hingga 55% berasal dari pangan,” jelas Yusuf. 

Baca Juga: Serapan Belanja Awal Tahun Diperkirakan Melambat, Masalah Cash Flow Jadi Faktor Utama

Sementara itu, permintaan musiman Ramadan–Lebaran diperkirakan menyumbang sekitar 30%, terutama melalui kenaikan harga makanan jadi, transportasi, dan jasa.

Di luar itu, inflasi inti, termasuk pergerakan harga emas perhiasan, diperkirakan berkontribusi sekitar 10%–15%, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset lindung nilai dan konsumsi non-pangan. 

"Faktor lain yang turut mempengaruhi inflasi antara lain stabilitas nilai tukar, biaya logistik, serta potensi tekanan inflasi impor dari pergerakan harga global," tutup Yusuf.

Selanjutnya: Program Makan Bergizi Dorong Impor Pangan

Menarik Dibaca: Cek Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini 2-6 Februari 2026, Perhatikan Jamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×