kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Bappenas Sebut MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja, Ekonom: Bukan Apple to Apple


Minggu, 01 Februari 2026 / 21:07 WIB
Bappenas Sebut MBG Lebih Mendesak dari Lapangan Kerja, Ekonom: Bukan Apple to Apple
ILUSTRASI. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (DOK/Bappenas)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak ketimbang urusan penciptaan lapangan kerja, menuai tanggapan dari kalangan ekonom. Kebijakan tersebut diingatkan agar tidak berjalan timpang hingga mengorbankan sektor produktif.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai kedua agenda tersebut merupakan instrumen pembangunan yang sama-sama penting. Menurutnya, membandingkan urgensi antara pemenuhan gizi dan penyediaan lapangan kerja tidaklah tepat karena keduanya memiliki sasaran yang berbeda.

"Dua-duanya penting, perlu dijalankan secara proporsional dan tidak perlu dibandingkan karena bukan apple to apple. Masing-masing menyasar target dan tujuan yang berbeda, saling melengkapi. Mirip seperti lebih penting kurikulum atau fasilitas belajar," ujar Wijayanto kepada Kontan.co.id, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: Menteri Bappenas Sebut Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak Ketimbang Lapangan Kerja

Wijayanto mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga keseimbangan alokasi sumber daya. Ia mewaspadai adanya dominasi satu program yang terlalu diprioritaskan, yang justru berpotensi menggeser program krusial lainnya di tengah keterbatasan anggaran negara.

"Yang perlu diperhatikan, jangan sampai satu program terlalu dominan dan diprioritaskan, sehingga menggeser program lain yang juga sangat penting," imbuhnya.

Apalagi, saat ini kondisi fiskal pemerintah sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Wijayanto menekankan agar pelaksanaan program MBG jangan sampai dipaksakan secara berlebihan jika ruang fiskal sedang menyempit, karena bisa berdampak pada minimnya insentif untuk sektor ketenagakerjaan.

Baca Juga: Targetkan 82,9 Juta Penerima MBG pada 2026, BGN Optimis Bulan Mei Sudah Tercapai

"Dalam konteks ini, MBG jangan terlalu dipaksakan saat fiskal sedang kesulitan, sehingga mengganggu program penting lain, termasuk insentif fiskal bagi penciptaan lapangan kerja," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menegaskan bahwa MBG memiliki urgensi lebih tinggi untuk segera dieksekusi saat ini. Ia berargumen bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui asupan gizi menjadi fondasi utama sebelum menangani isu-isu lainnya, termasuk ketersediaan lapangan kerja.

Rachmat menjelaskan, meski lapangan kerja sama pentingnya dengan MBG, namun kondisi riil di lapangan menuntut penanganan kelaparan terlebih dahulu. Ia mengibaratkan perdebatan ini seperti pilihan antara memberi "kail" atau "ikan".

"MBG penting, lapangan kerja penting, tetapi MBG lebih mendesak. Ada yang bilang, tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail (lapangan kerja), sudah keburu mati. Saudara-saudara kita di ujung pelosok desa kita itu lapar, mereka kelaparan," ujarnya dalam Prasasti Economic Forum 2026, di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga: Tahun 2026, BGN Targetkan Bangun 33.000 Dapur MBG

Selanjutnya: CNAF Nilai Pembiayaan Emas Punya Prospek Positif Seiring Tren Emas yang Meningkat

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, Indonesia Borong 4 Gelar Juara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×