kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Pemimpin korup, lahir dari politik uang


Minggu, 08 Desember 2013 / 14:40 WIB
ILUSTRASI. Extraordinary Attorney Woo, drama Korea terbaru yang bergenre legal drama dan raih popularitas tinggi hingga saat ini.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Politik uang dalam proses politik lewat pemilu lima tahunan tak lagi dianggap sebagai aib demokrasi. Bahkan, muncul sikap permisif dari masyarakat untuk menerima politik uang menjelang bahkan sesudah pencoblosan.

"Maka, membiarkan terjadinya politik uang dalam pemilu sama halnya dengan menerima lahirnya seorang pemimpin korup," ujar Donal Fariz di sela diskusi bersama Ikatan Fakultas Hukum Universitas Andalas di Jakarta, Minggu (8/12).

Aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW) ini menambahkan, untuk memangkas terjadinya politik uang dalam Pemilu 2014, tak cukup dilakukan sendiri. Seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan bersama-sama menolak aksi politik uang.

Ia mengusulkan, KPU dan Bawaslu harus menempatkan Pusat Pelaporan Analisa dan Transaksi Keuangan (PPATK) ke dalam simpul penting pengawasan dana kampanye para calon legislatif dan calon presiden di Pemilu 2014 mendatang.

"Masyarakat harus menolak segala bentuk politik uang dalam pemilu. Karena kepemimpinan yang baik tidak akan pernah terlahir di tangan para pemilih yang permisif terhadap politik uang," kata Donal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×