kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Pemerintah Targetkan Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4%, Tax Ratio Naik hingga 10,50%


Selasa, 09 Juni 2026 / 16:39 WIB
Pemerintah Targetkan Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4%, Tax Ratio Naik hingga 10,50%
ILUSTRASI. Pemerintah merancang defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 pada kisaran 1,8% hingga 2,4% terhadap ?PDB. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah merancang defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 pada kisaran 1,8% hingga 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sejalan dengan itu, pemerintah juga menargetkan rasio pajak (tax ratio) meningkat ke level 10,02% hingga 10,50% terhadap PDB.

Target tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI saat membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027.

Purbaya menjelaskan, rancangan APBN 2027 disusun untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dan keberlanjutan fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Baca Juga: Peringatan Chatib Basri: Anggaran Pemerintah Terancam Seret!

"Untuk menjaga keberlanjutan fiskal, pemerintah merancang defisit APBN 2027 pada kisaran 1,8% hingga 2,4% terhadap PDB," ujar Purbaya dalam rapat Paripurna di Gedung Parlemen, Selasa (9/6/2026).

Dalam rancangan tersebut, pendapatan negara diproyeksikan mencapai 11,82% hingga 12,40% terhadap PDB. Sementara itu, tax ratio ditargetkan berada pada rentang 10,02% hingga 10,50% terhadap PDB.

Di sisi belanja, pemerintah memperkirakan belanja negara berada pada kisaran 13,62% hingga 14,80% terhadap PDB untuk mendukung berbagai program prioritas nasional.

Purbaya menegaskan, kebijakan fiskal tahun 2027 akan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah juga akan memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan investasi guna menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.

Dalam KEM-PPKF 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,8% hingga 6,5%. Target tersebut ditopang oleh peningkatan investasi yang diproyeksikan tumbuh 6,5% hingga 7,5%, terutama pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi.

Menurut Purbaya, Indonesia memiliki modal kuat untuk mencapai target tersebut. Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), menjadi pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak 2014.

Baca Juga: Bulog Usul Program Beras Kita Premium untuk Stabilkan Harga Beras Kualitas Atas

Selain itu, inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08%, surplus neraca perdagangan telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, dan cadangan devisa mencapai US$ 144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor.

Untuk mendukung agenda pembangunan nasional, pemerintah akan mengarahkan kebijakan fiskal pada delapan klaster prioritas, yakni kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan perumahan, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.

Di bidang kesejahteraan sosial, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 6% hingga 6,5%, tingkat pengangguran terbuka berada pada kisaran 4,3% hingga 4,87%, serta rasio gini membaik ke level 0,362 hingga 0,367.

Pemerintah optimistis target-target tersebut dapat dicapai melalui pengelolaan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×