kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Pemerintah kaji dampak sosial politik kenaikan BBM


Rabu, 12 Desember 2012 / 14:50 WIB
Rating drakor Hometown Cha-Cha-Cha mengalahkan drama Korea terbaru Lost di akhir pekan.


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pemerintah belum menutup peluang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Salah satu alasannya mengapa pemerintah belum memutuskan sikap karena sedang mempertimbangkan dampak kebijakan itu.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan, pemerintah masih menghitung dan mempertimbangkan semua opsi baik menaikkan atau mempertahankan BBM subsidi. Menurutnya, pemerintah mempertimbangkan daya beli masyarakat, stabilitas dan investasi langsung.

Bukan hanya itu. Pemerintah juga memperhatikan dampak sosial politik menjelang Pemilu 2014 mendatang. "Semua faktor sedang dipertimbangkan pemerintah," katanya, Rabu (12/12).

Dia tidak bisa memastikan kapan pemerintah mengambil sikap perihal kebijakan BBM subsidi. Yang jelas, berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, pemerintah bisa menaikkan harga BBM subsidi.

Sebelumnya, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi sudah saatnya dinaikkan. Dia beralasan, kemampuan pemerintah mengelola pembangunan semakin menurun.

Kalla menyadari dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM subsidi itu. Namun, dia mengatakan, pemerintah harus menentukan langkah bagi pertumbuhan ekonomi. Dia mencontohkan seperti Turki yang mempunyai laju inflasi tinggi namun bisa maju.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×