kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.710   -73,00   -0,41%
  • IDX 6.664   67,78   1,03%
  • KOMPAS100 871   12,33   1,44%
  • LQ45 661   8,80   1,35%
  • ISSI 232   2,52   1,10%
  • IDX30 370   4,67   1,28%
  • IDXHIDIV20 457   6,50   1,44%
  • IDX80 99   1,43   1,46%
  • IDXV30 127   2,80   2,26%
  • IDXQ30 118   1,70   1,46%

Peluang Besar! Kemnaker Proyeksikan 3,88 Juta Green Jobs dalam 5 Tahun


Kamis, 03 September 2026 / 10:29 WIB
Peluang Besar! Kemnaker Proyeksikan 3,88 Juta Green Jobs dalam 5 Tahun
ILUSTRASI. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli (KONTAN/Hervin Jumar)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memproyeksikan kebutuhan pekerjaan hijau atau green jobs mencapai sekitar 3,88 juta pekerjaan dalam lima tahun ke depan.

Namun, transisi menuju ekonomi hijau menghadirkan tantangan baru karena kompetensi sebagian tenaga kerja saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan hijau.

Baca Juga: Target 3,49 Juta Lapangan Kerja 2027, Kemnaker Fokus Atasi Job Mismatch

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, green jobs akan menjadi bagian penting dalam perkembangan perekonomian dan pasar tenaga kerja nasional.

Menurutnya, pergeseran struktur ekonomi menuju green economy akan meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan baru.

Green jobs ini kan sebagai sebuah proses sebetulnya, artinya kita memang ada semacam prediksi bahwa ini akan menjadi bagian yang sangat penting dari penopang perekonomian nasional terutama di bidang ketenagakerjaan,” ujar Yassierli saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Yassierli menilai, tantangan pemerintah bukan hanya menciptakan lapangan kerja hijau, tetapi juga memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sejumlah wilayah dan sektor ekonomi mulai bergerak menuju ekonomi hijau. Namun, kesiapan sumber daya manusia (SDM) masih membutuhkan intervensi pemerintah.

Baca Juga: Imigrasi China Diperketat, Transit Bebas Visa 240 Jam Jadi Daya Tarik

Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan program peningkatan keterampilan, terutama bagi pekerja yang selama ini berada di pekerjaan dengan kebutuhan keterampilan relatif rendah.

“Kalau misalnya bergeser kepada green economy, mereka harus kita melakukan update, melakukan di situ adalah reskilling dari sisi keterampilan,” lanjut Yassierli.

Menurutnya, reskilling diperlukan agar pekerja mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri dan tidak tertinggal ketika struktur pekerjaan bergeser menuju ekonomi hijau.

Transformasi tersebut juga berpotensi menciptakan kebutuhan keterampilan baru yang berbeda dari pekerjaan yang selama ini dijalankan tenaga kerja.

Oleh karena itu, peningkatan kompetensi menjadi faktor penting agar proyeksi jutaan green jobs tersebut dapat diisi oleh tenaga kerja domestik.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Paksa 1,4 Juta Siswa di 6 Provinsi Belajar dari Rumah

Yassierli menambahkan, pemerintah perlu memberikan intervensi khusus dalam menyiapkan SDM untuk mendukung proses transisi menuju green economy.

Tanpa penyesuaian kompetensi, pertumbuhan pekerjaan hijau berisiko tidak diikuti secara optimal oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×