kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Parlemen semu masalah klasik presiden baru


Rabu, 16 April 2014 / 14:04 WIB
Parlemen semu masalah klasik presiden baru
ILUSTRASI. Beda Arah, Harga Saham BUMI dan GOTO di Perdagangan Bursa Rabu (23/11). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.


Reporter: Gloria Fransisca | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Eep Saefulloh Fattah berujar, Pemilu Legislatif (Pileg) yang baru dilalui sepekan ini perlu diapresiasi (16/4).

Menurut Eep, paska Pileg, perlu dievaluasi kembali masalah klasik yang otomatis akan dihadapi oleh Presiden adalah kondisi parlemen semu yang cukup menyulitkan.

Kondisi parlemen semu ini sesungguhnya bisa dilihat dari potensi kecurangan yang terjadi. Hal ini, dimana ada sisi positif yang berkembang, namun juga ada sisi negatif yang berjalan.

"Misalnya, dari segi monitoring, saya menilai Pemilu 2014 jauh lebih baik sistemnya. Tetapi, dari segi logistik belum memadai, dan harus diurus," ujarnya.

Sembari menunggu rekapitulasi, Eep juga percaya bahwa pihak penyelenggara tentu sudah mengumpulkan dan akan segera memproses pelanggaran yang sudah ditemukan.

Kondisi simpang siur dalam penentuan capres dan cawapres serta riuhnya isu koalisi bagi Eep sangat lumrah di Indonesia. Namun, berlakunya sistem multipartai dan pemerintahan presidensial membuat sistem presidensial kita mulai tak murni.

"Presiden akan tersulitkan, karena koalisi tidak bisa dihindarkan," ujarnya.

Inilah yang dinilai oleh Eep seringkali membuat pemilihan presiden tidak bisa dilepaskan dari kekuatan parlemen. Hal ini seringkali disebut dengan istilah parlemen semu, dimana ketika presiden terpilih, dia tidak bisa mengindahkan diri dari kekuatan parlemen. Sebab, ada hak, kewenangan, dan otoritas yang harus dibagi.

"Kita berbeda dari Amerika Serikat (AS) yang presidensial dengan dua partai saja. Akibatnya, kondisi iklim pemilihan presiden di AS bisa terlepas kaitannya dari campur tangan partai," ujar Eep.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×