kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Pandemi Covid-19 Sudah Reda, Sri Mulyani Ingatkan Perekonomian Global Belum Pulih


Rabu, 10 Mei 2023 / 12:33 WIB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan mengatakan, setelah pandemi Covid-19 reda, ada sejumlah tantangan dari perekonomian global yang harus diwaspadai. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/tom.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 baik itu di Indonesia maupun global memang sudah mereda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan secara resmi mengumumkan berakhirnya darurat kesehatan global Covid-19 pada Jumat (5/5). Meski begitu, masiah ada sejumlah risiko yang membayangi perekonomian global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, setelah pandemi Covid-19 mereda, terdapat sejumlah tantangan dari perekonomian global yang harus sangat diwaspadai.

Sebab Sri Mulyani khawatir akan berimbas pada perekonomian di tanah air.

“Di satu sisi, pandemi Covid-19 telah menurun secara signifikan dan baru-baru ini mengumumkan bahwa kondisi kedaruratan Covid-19 sudah di titik penghujungnya. Sayangnya, ketika pandemi ini telah surut, lanskap ekonomi global menghadirkan banyak tantangan dan mengancam pemulihan ekonomi global,” kata Sri Mulyani dalam agenda Muslim World Resilience in Anticipating the Global Economic Uncertainties, Rabu (10/5).

Baca Juga: Mengenali Risiko Bisnis di Tengah Ancaman Krisis Global

Tantangan tersebut di antaranya, perang Rusia dan Ukraina yang belum juga usai, dan tentunya tensi geopolitik tersebut menciptakan tekanan yang sedemikian besar terhadap komoditas, sehingga berdampak pada ketidakpastian global.

Kemudian, inflasi yang tinggi di banyak negara karena adanya fragmentasi geoekonomi. Amerika Serikat contohnya,  yang memberlakukan Undang-Undang (UU) Pengurangan Inflasi dan di Eropa melakukan penyesuaian batas karbon.

Kebijakan tersebut tentunya akan memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara yang mengekpor ke negara tersebut, dan juga bisa memengaruhi investasi.

International Monetary Fund (IMF) bahkan mengumumkan bahwa ekonomi global akan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan yang diproyeksikan lebih rendah, hanya 2,6% di 2023, dan untuk tahun depan sedikit meningkat di 3%.

Baca Juga: Standard Chartered Prediksi Resesi Besar Tak Mungkin Terjadi di AS

Dari berbagai persoalan perekonomian global tersebut, Sri Mulyani memastikan perekonomian Indonesia tumbuh semakin baik.

“Kami termasuk di antara 10 ekonomi terbesar dengan pertumbuhan sektor e-commerce tercepat setelah Vietnam. Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia juga tergolong sukses, sehingga memberikan kami kepercayaan diri terhadap pemulihan,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×