kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Pajak baru pertanahan, Sri Mulyani: Demi keadilan


Kamis, 02 Februari 2017 / 16:36 WIB


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Pemerintah berencana mengenakan pajak progresif terhadap tanah tak produktif (idle) alias nganggur. Tujuannya, untuk menghilangkan spekulasi harga tanah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah tengah memformulasikan kebijakan yang mencerminkan azas keadilan. Termasuk yang menyangkut pajak bumi dan bangunan (PBB) tanah di perdesaan maupun di perkotaan hingga PBB tanah perkebunan dan kehutanan, dari sisi kepemilikan tanah, kemampuan membayar pajak, hingga sertifikasi tanah.

"Jadi judulnya bukan pajak progresif tetapi judulnya adalah ekonomi berkeadilan," kata Sri Mulyani usai menghadiri acara Pertemuan Nasional Sawit Indonesia 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (2/1). Meski demikian ia juga mengaku belum ada formulasi tetap terkait kebijakan tersebut.

Menurutnya, Kementerian Keuangan (Kemkeu) dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) lanjut dia, juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menyinkronkan data-data di Kementerian ATR dengan data-data pajak.

Oleh karena itu kata Sri Mulyani, kebijakan yang berkeadilan terkait dengan tanah juga dilakukan melalui imbauan seluruh pemilik tanah untuk memanfaatkan momentum amnesti pajak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×