kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.996   5,00   0,03%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026 dan 5% di 2027


Senin, 30 Maret 2026 / 06:45 WIB
OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026 dan 5% di 2027
ILUSTRASI. OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 dan 2027 di tengah meningkatnya risiko global utamanya di Timur Tengah.

Dalam laporan terbaru OECD Economic Outlook Testing Resilience Maret 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,8% pada 2026, dan melambat menjadi 5% pada 2027. Revisi ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi dan dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut lebih rendah bila dibandingkan laporan sebelumnya pada Desember 2025, yang memproyeksikan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026, dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027.

Baca Juga: Banjir Likuiditas Tak Cukup, Penyaluran Kredit UMKM Terhambat Persepsi Risiko

Proyeksi ekonomi pada 2026 dari OECD tersebut juga lebih rendah dari APBN 2026 yang ditargetkan mencapai 5,4%.

Penurunan proyeksi ini tidak lepas dari memburuknya kondisi global. OECD mencatat konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga energi serta mengganggu pasokan global. Kenaikan harga energi tersebut dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan menekan permintaan.

Kenaikan harga energi tersebut dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan mendorong inflasi, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. OECD menegaskan bahwa jika tekanan ini berlanjut, maka akan berdampak negatif terhadap permintaan dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia, dampak ini menjadi lebih terasa karena masih bergantung pada impor energi. Kenaikan harga global berpotensi langsung menekan daya beli masyarakat serta margin pelaku usaha.

“Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) global diproyeksikan melambat menjadi 2,9% pada tahun 2026 sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0% pada tahun 2027,” mengutip laporan tersebut, Minggu (29/3/2026).

Baca Juga: Usai Libur Lebaran, Siap-Siap Libur Panjang Awal April 2026

Sejalan dengan itu, OECD juga merevisi naik proyeksi inflasi Indonesia menjadi 3,4% pada 2026, dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.

Selain itu, kondisi keuangan global yang semakin ketat juga menjadi tantangan tambahan. OECD mencatat volatilitas pasar keuangan meningkat dan biaya pendanaan cenderung naik, yang dapat menahan ekspansi investasi.

Meski demikian, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap terjaga. Dukungan kebijakan fiskal dan konsumsi domestik menjadi faktor penopang utama yang menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

“Di Indonesia, pertumbuhan diproyeksikan akan tetap stabil karena stimulus fiskal baru-baru ini mendukung pertumbuhan konsumsi swasta,” tulis laporan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×