kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 16.813   14,00   0,08%
  • IDX 8.978   32,92   0,37%
  • KOMPAS100 1.240   7,91   0,64%
  • LQ45 876   5,00   0,57%
  • ISSI 325   1,22   0,38%
  • IDX30 445   1,18   0,27%
  • IDXHIDIV20 523   2,22   0,43%
  • IDX80 138   0,94   0,69%
  • IDXV30 145   0,82   0,57%
  • IDXQ30 142   0,04   0,03%

Nvidia Pilih Investasi di Malaysia, Ekonom Soroti KEK RI Perlu Kompleksitas Regulasi


Rabu, 07 Januari 2026 / 13:53 WIB
Nvidia Pilih Investasi di Malaysia, Ekonom Soroti KEK RI Perlu Kompleksitas Regulasi
ILUSTRASI. A NVIDIA logo (KONTAN/Mike Blake) Ekonom menilai KEK di Indonesia selama ini hanya fokus pada perbaikan satu aspek saja, yakni logistik dan infrastruktur.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pilihan raksasa teknologi Nvidia untuk menanamkan investasi besarnya di Johor, Malaysia menjadi sinyal bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia masih belum cukup memikat di mata investor global.

Meski Indonesia telah menyiapkan kawasan khusus teknologi tinggi seperti di KEK Batam, daya saing Indonesia dinilai masih tertinggal.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, KEK di Indonesia selama ini hanya fokus pada perbaikan satu aspek saja, yakni logistik dan infrastruktur. Menurutnya, investor kelas dunia membutuhkan ekosistem yang lebih luas dan stabil.

Baca Juga: Pimpinan KPK Bantah Tak Satu Suara Soal Penetapan Tersangka Kasus Kuota Haji 2024

"Investor membutuhkan faktor lain, seperti kepastian hukum, konsistensi regulasi, dan integritas birokrasi. Dalam aspek itu kita masih belum bisa menyamai negara lain," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (7/1/2026).

Wijayanto berpandangan, pemerintah perlu memastikan agar KEK terhindar dari duplikasi kebijakan. Di banyak daerah, berbagai aturan Pemerintah Daerah (Pemda) seringkali ikut mengintervensi KEK, sehingga membuat kompleksitas regulasi bertambah bagi para penghuni kawasan.

Tak hanya soal regulasi di atas kertas, Wijayanto juga menyoroti kendala keamanan dan etika bisnis di lapangan yang sering dikeluhkan pengusaha. 

"Praktek premanisme oleh oknum berseragam juga masih marak, ini perlu diakhiri (jika ingin membetot perhatian investor)," tegasnya.

Di samping itu, Wijayanto mengingatkan bahwa investor global, terutama dari Eropa, sangat peduli dengan isu Energi Baru Terbarukan (EBT). Menurutnya, KEK harus mulai memikirkan sumber energi hijau agar produk yang dihasilkan di kawasan tersebut bisa menembus pasar internasional.

"Faktanya, banyak produk kita tidak bisa masuk ke Eropa. KEK perlu mulai memikirkan standar aspek lingkungan, termasuk sumber energi EBT," tambahnya.

Meski demikian, Wijayanto mengakui bahwa beberapa KEK di Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup positif. Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut masih jauh di bawah titik optimal yang seharusnya bisa diraih.

"Banyak perbaikan bisa dilakukan untuk mewujudkan potensinya," pungkasnya.

Baca Juga: Ditjen Pajak Tunjuk 4 Perusahaan Sertifikasi Digital untuk Coretax

Selanjutnya: Bocoran HP Samsung yang Rilis Awal 2026: Galaxy A37, A57, dan S26 Series

Menarik Dibaca: 5 Olahraga untuk Mengencangkan Payudara Kendur, Bisa Dilakukan di Rumah!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×