kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Neraca dagang September akan defisit US$ 170 juta


Senin, 27 Oktober 2014 / 16:15 WIB
ILUSTRASI. Seorang anak memerhatikan minyak goreng kemasan premium yang dijual di Pasar Tavanjuka, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (1/4/2022). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/aww.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Momok defisit neraca dagang  masih belum terjawab penyelesaiannya. Bahkan defisit neraca dagang diperkirakan akan kembali terjadi pada September 2014.

Kepala Ekonom BII Juniman menghitung, impor mengalami kenaikan pada bulan September. Jika pada Agustus nilai impor sebesar US$ 14,79 miliar, pada bulan September naik menjadi US$ 14,9 miliar. 

Sedangkan ekspor, Juniman memprediksi mengalami kenaikan 1,8% dari US$ 14,48 miliar pada bulan Agustus menjadi US$ 14,74 miliar pada bulan September. Dirinya menjelaskan, defisit sebesar US$ 170 juta lebih diakibatkan impor barang konsumsi.

Kekeringan yang melanda Indonesia mengakibatkan bahan makanan produksi dalam negeri tidak mencukupi. "Ini buat impor makanan kita meningkat," ujar Juniman, pekan lalu di Jakarta.

Untuk ekspor sendiri, diakui Juniman, sulit untuk mengalami kenaikan yang tinggi lantaran harga komoditi yang turun dan permintaan global yang turun. Ekspor konsentrat sendiri baru mulai terjadi pada bulan Oktober sehingga untuk mendongkrak neraca dagang September belum bisa dilakukan.

Asal tahu saja, pada bulan Agustus kemarin neraca dagang Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 318,1 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×