kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.010   19,00   0,11%
  • IDX 7.086   -11,53   -0,16%
  • KOMPAS100 977   0,66   0,07%
  • LQ45 718   -0,60   -0,08%
  • ISSI 252   1,99   0,80%
  • IDX30 389   -1,91   -0,49%
  • IDXHIDIV20 490   1,05   0,21%
  • IDX80 110   0,32   0,29%
  • IDXV30 136   1,52   1,13%
  • IDXQ30 127   -0,61   -0,48%

Negara Lain Darurat Energi, Ekonom: Indonesia Jauh dari Kata Aman


Senin, 30 Maret 2026 / 08:47 WIB
Negara Lain Darurat Energi, Ekonom: Indonesia Jauh dari Kata Aman
ILUSTRASI. Menteri ESDM yakin aman, tapi ekonom Bhima Yudhistira punya pandangan berbeda. Mengapa Indonesia justru jauh dari kata aman? (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada akhirnya berdampak pula terhadap sektor energi di berbagai negara. Hal ini terutama terlihat ketika Iran menguasai Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia, sebagai bagian dari respons atas serangan yang dimuali AS dan Iran pada Februari 2026. Transportasi kapal yang membawa bahan bakar kemudian mengalami hambatan.

Beberapa negara pun telah mendeklarasikan krisis energi. Filipina misalnya, menetapkan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026) dan mengaktifkan dana darurat sebesar 20 miliar peso (sekitar Rp 5,61 triliun) untuk membeli hingga 2 juta barel bahan bakar, termasuk minyak olahan dan elpiji. 

Di Bangladesh, krisis BBM membuat asosiasi pemilik SPBU khawatir hingga mengancam menghentikan operasional jika situasi tak membaik.

Sementara Korea Selatan mengaktifkan tanggap darurat nasional pada Rabu (25/3/2026) dan meminta masyarakat ikut berhemat energi.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah aman dari darurat energi?

"Indonesia masih jauh dari aman"

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai Indonesia saat ini berada dalam fase quite before the storm atau “sunyi sebelum badai”. 

Menurut Bhima, meski negara lain sudah mengeluarkan kebijakan darurat energi, Indonesia belum melakukan upaya riil, terutama dalam menyiapkan paket mitigasi.

Baca Juga: OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026 dan 5% di 2027

Ia menyoroti perbandingan dengan Jepang, yang memiliki cadangan BBM hingga 254 hari, sedangkan Indonesia hanya 25 hari. Jepang bahkan meluncurkan paket mitigasi berupa pelepasan 400 juta barel oleh anggota IEA, serta ekspansi pembangkit tenaga angin offshore dan hidrogen. Tujuannya, agar harga BBM tetap stabil, tidak melebihi 170 yen per liter.

“Indonesia jelas jauh dari kata aman. Konsumsi BBM dan LPG masih tinggi, sementara impor dari Selat Hormuz belum bisa dilakukan karena konflik. Jika ada alternatif, harganya tentu mahal," jelasnya, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/2026).

Bhima bilang, subsidi energi butuh tambahan Rp 126 triliun, dan belum ada skenario APBN Perubahan dengan DPR.

"Kita terlalu santai,” singgungnya.

Saran kebijakan 3 program dalam paket mitigasi

Bhima menyarankan agar pemerintah membuat paket mitigasi. Salah satu programnya adalah dengan menggeser anggaran terlebih dahulu.

"Soal subsidi energi harus dijaga bukan dengan menaikkan harga BBM atau LPG, tapi geser anggaran dulu," katanya.

Menurutnya, perlu ada pembicaraan mengenai APBN Perubahan di DPR. Jika ada pos belanja yang belum mendesak, Bhima menyarankan untuk bisa dipangkas.

"Masyarakat khususnya menengah kebawah tidak siap hadapi kenaikan harga BBM. Efeknya bisa downward spiral ke pelemahan daya beli, kemiskinan naik, PHK massal, terlalu berisiko," tegasnya.

Baca Juga: Banjir Likuiditas Tak Cukup, Penyaluran Kredit UMKM Terhambat Persepsi Risiko

Kemudian, program kedua adalah pengurangan konsumsi BBM melalui subsidi serta menggratiskan transportasi publik. Bhima menyinggung kebijakan Spanyol pada 2022 ketika pemerintahnya membuat masyarakat Spanyol bergeser ke transportasi umum.

"Spanyol tahun 2022 menggratiskan kereta dalam kota dan bus biar kendaraan pribadinya bergeser ke transportasi umum," yungkap Bhima.

Terakhir, program ketiga yang disarankan Bhima adalah mempercepat transisi energi terbarukan.

"100 GW panel surya segera gantikan desa yang pakai pembangkit listrik dari BBM. Porsi energi fosilnya harus turun. Ini momentum untuk gantikan fosil dengan energi yang lebih tahan guncangan," pungkasnya.

Menteri ESDM tegaskan masyarakat tak perlu khawatir

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pasokan energi Indonesia masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Sekalipun negara-negara lain, sebagian negara di Asia sudah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara, dalam hal ini darurat, harus saya yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaAllah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear," ungkapnya, dilansir Kompas.com, Kamis. (26/3/2026),

Ia menuturkan Indonesia memang masih melakukan impor BBM jenis bensin sekitar 50 persen, serta gas alam cair atau liquefied petroleum gas (LPG) sekitar 70 persen. Namun, untuk kedua produk tersebut, pihaknya telah mencari alternatif sumber selain dari negara Timur Tengah.

Tonton: Kejagung Tetapkan Samin Tan Tersangka, Ini Kasus yang Menjeratnya

Bahlil menegaskan agar masyarakat tak perlu khawatir dengan ketersediaan energi. Namun ia meminta agar masyarakat menggunakan energi secara bijaksana mengingat kondisi global yang masih bergejolak.

"Sekalipun kita dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita semua. Saya memohon, menyarankan, agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak," pungkas Bahlil.

(Fatimah Az Zahra, Irawan Sapto Adhi)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/30/080000265/saat-negara-lain-darurat-energi-apakah-indonesia-benar-benar-aman-?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×