kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.806   30,00   0,18%
  • IDX 8.329   96,95   1,18%
  • KOMPAS100 1.162   22,43   1,97%
  • LQ45 832   18,58   2,29%
  • ISSI 299   3,07   1,04%
  • IDX30 431   9,38   2,23%
  • IDXHIDIV20 512   10,99   2,20%
  • IDX80 129   2,64   2,09%
  • IDXV30 139   2,22   1,63%
  • IDXQ30 139   3,63   2,67%

Muhammadiyah Jelaskan Alasan 1 Ramadan 2026 Jatuh 18 Februari


Jumat, 30 Januari 2026 / 07:43 WIB
Muhammadiyah Jelaskan Alasan 1 Ramadan 2026 Jatuh 18 Februari
ILUSTRASI. Muhammadiyah menjelaskan, penentuan 1 Ramadan 2026 berdasarkan KHGT, bukan rukyah lokal. (ANTARA/Saiful Bahri)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, dijelaskan secara rinci oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo. Penjelasan tersebut disampaikan dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (28/1/2026), dengan merujuk pada penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Melansir muhammadiyah.or.id, Rahmadi menjelaskan bahwa KHGT dibangun di atas prinsip utama keselarasan hari dan tanggal secara global (one day, one date globally). Prinsip ini hanya dapat terwujud apabila bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona-zona regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional.

“Kalau bumi dibagi ke dalam zona-zona penanggalan, maka tidak mungkin terjadi keseragaman hari dan tanggal. Karena bisa terjadi kawasan barat sudah masuk tanggal baru, sementara kawasan timur belum,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa secara metodologis, kalender hanya dapat disusun melalui hisab atau perhitungan astronomi. Rukyah, menurutnya, hanya berfungsi untuk memastikan awal bulan dalam jangka pendek dan tidak memungkinkan pembentukan sistem kalender jangka panjang.

Atas dasar itu, KHGT menggunakan prinsip ittihadul mathali’ atau kesatuan matla’ dengan parameter global, bukan kriteria lokal sebagaimana yang lazim digunakan dalam penentuan awal bulan di tingkat nasional.

Baca Juga: Pemerintah Klaim Positif Hasil Negosiasi Tarif Dagang dengan AS

Rahmadi menerangkan, berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan. Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di bumi yang memenuhi dua syarat astronomis utama, yakni elongasi bulan–matahari minimal 8 derajat dan ketinggian hilal saat matahari terbenam minimal 5 derajat.

Apabila hingga batas waktu tersebut syarat utama belum terpenuhi, KHGT menyediakan parameter lanjutan. Pertama, ijtimak atau konjungsi bulan harus terjadi di Selandia Baru sebelum waktu fajar, mengingat wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk paling awal menyambut hari baru di bumi.

Kedua, pada saat yang sama, parameter elongasi 8 derajat dan ketinggian hilal 5 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika sebagai penanda akhir siklus 24 jam global.

“Fajar dipilih karena ia menjadi batas awal puasa. Ini untuk memastikan tidak ada satu pun wilayah di bumi yang tertinggal atau mendahului kalender global,” terang Rahmadi.

Baca Juga: Ancaman 'Bom Waktu' OMC? BMKG Tegas Bantah Narasi Medsos

Berdasarkan hasil hisab, konjungsi bulan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 GMT. Namun hingga sebelum pukul 24.00 GMT pada hari tersebut, tidak ada wilayah di dunia yang secara langsung memenuhi syarat elongasi dan ketinggian hilal.

Karena itu, Majelis Tarjih menggunakan parameter lanjutan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtimak di Selandia Baru terjadi sebelum waktu fajar setempat. Pada Februari, Selandia Baru menggunakan waktu musim panas (UTC+13), sehingga konjungsi berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari waktu lokal, sementara fajar terjadi setelahnya.

Selanjutnya, kondisi di benua Amerika ditinjau. Berdasarkan perhitungan geosentrik, wilayah Bethel di Alaska menunjukkan elongasi bulan telah melebihi 8 derajat dan ketinggian hilal melampaui 5 derajat.

“Artinya, parameter global telah terpenuhi di daratan Amerika. Meskipun wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, ia tetap sah karena yang dijadikan acuan adalah daratan, bukan jumlah populasi,” tegas Rahmadi.

Dengan terpenuhinya dua syarat lanjutan tersebut, maka awal bulan Ramadan ditetapkan secara global pada keesokan harinya, yakni Rabu, 18 Februari 2026.

Rahmadi menegaskan bahwa dalam sistem KHGT, terlihat atau tidaknya hilal di Indonesia tidak menjadi penentu. Data menunjukkan bahwa saat itu hilal di Indonesia, Makkah, dan Turki masih berada di bawah ufuk. Namun karena KHGT menganut prinsip kesatuan matla’, keterpenuhan parameter di satu wilayah dunia berlaku untuk seluruh bumi.

Tonton: Meroket Naik Rp 165.000 Per Gram! Cek Detail Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini

“Kalau masih memakai wujudul hilal lokal, Indonesia memang akan memulai Ramadan pada 19 Februari. Tetapi karena kita sudah menggunakan KHGT, maka keterpenuhan parameter di Alaska itu ditransfer secara global,” jelasnya.

Ia menyebut konsep ini serupa dengan gagasan transfer wujud dalam sistem lama, tetapi diterapkan secara global, bukan terbatas pada wilayah hukum nasional.

Berdasarkan seluruh rangkaian perhitungan dan parameter tersebut, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Selanjutnya: Pemerintah Klaim Positif Hasil Negosiasi Tarif Dagang dengan AS

Menarik Dibaca: 7 Film Fantasi Korea Terbaik, Temukan Rekomendasi Seru di Sini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×