Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027 seiring meningkatnya tekanan dari pelemahan permintaan domestik, kondisi global yang kurang mendukung, serta kebijakan moneter yang semakin ketat.
Dalam laporan Macro Outlook - Macroeconomic Outlook Revision: Tight Rates Without Clear Macro Anchor, Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto merevisi proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, yang masing-masing sebesar 5,0% untuk 2026 dan 5,1% di 2027.
Menurut Rully, perlambatan ekonomi dipicu oleh kombinasi melemahnya konsumsi dan investasi domestik, kondisi eksternal yang semakin berat, serta pengetatan kondisi keuangan.
Baca Juga: Optimisme Konsumen dan Penjualan Eceran Menurun, Daya Beli Kian Tertekan
"Di tengah bauran kebijakan saat ini dan kondisi global, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin mengarah pada perlambatan," tulis Rully dalam laporannya, Kamis (9/7/2026).
Di sisi lain, Mirae Asset justru menaikkan proyeksi inflasi Indonesia menjadi sekitar 4,0% pada 2026. Inflasi diperkirakan baru akan kembali masuk ke kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5% pada 2027.
Kenaikan inflasi tersebut diperkirakan berasal dari dampak tertunda lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ruang fiskal pemerintah yang dinilai semakin terbatas untuk meredam tekanan biaya.
Dari sisi global, Mirae Asset menilai tantangan utama tahun ini bergeser dari ekspektasi pelonggaran moneter menjadi pengetatan suku bunga.
Lembaga tersebut kini memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026.
Selain itu, di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, bank sentral AS juga diperkirakan melanjutkan normalisasi neraca keuangan yang akan memperketat likuiditas dolar AS di pasar global.
Kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer) dinilai akan semakin membatasi peluang penguatan rupiah dan sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi global.
Baca Juga: Kejar Target 2026, Ditjen Pajak Layangkan Surat Pengingat Tagihan ke Para Penunggak
Dalam laporan tersebut, Mirae Asset juga menyebut, posisi Bank Indonesia (BI) semakin sulit.
Meski BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin, kebijakan tersebut dinilai belum mampu memberikan penguatan signifikan terhadap rupiah.
Di saat yang sama, ruang untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin sempit karena berbagai indikator domestik mulai menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih nyata.
Mirae Asset menyoroti munculnya defisit kembar (twin deficits), yakni defisit fiskal dan defisit eksternal, yang dinilai semakin mempersempit ruang pemerintah untuk memberikan stimulus ekonomi.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga dan investasi yang melemah membuat daya tahan ekonomi terhadap kebijakan moneter ketat semakin berkurang.
Menurut Rully, Bank Indonesia memang terus berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga dan intervensi pasar. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup karena belum diimbangi koordinasi kebijakan fiskal yang kuat dan kredibel.
Akibatnya, investor masih mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi sehingga premi risiko Indonesia tetap tinggi dan sentimen pasar cenderung berhati-hati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














