kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Menkeu luruskan polemik soal utang IMF


Selasa, 28 April 2015 / 19:03 WIB
Katalog Promo JSM Superindo Terbaru 17-19 November 2023, Produk Harian Diskon 50%.


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Silang pendapat soal keberadaan utang pemerintah ke lembaga keuangan International Monetary Fund (IMF) terus bergulir. Setelah Sekretaris Kabinet Andi Widjajano mengungkapkan keberadaan utang ke IMF sebesar US$ 2,8 miliar, kini pernyataan tersebut diluruskan oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro.

Bambang bilang, yang memiliki utang ke IMF sebesar US$ 2,8 miliar bukanlah pemerintah, tetapi Bank Indonesia (BI). Tujuannya, dalam rangka pengelolaan cadangan devisa, berupa Special Drawing Rights (SDR). "Jadi alokasi SDR ini untuk semua anggota IMF," ujar Bambang Selasa (28/4) di Jakarta.

Adapun sifat pinjaman itu berupa stand by loan, yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Tetapi sejak mendapatkan fasilitas itu tahun 2009, hingga kini dana pinjaman itu belum pernah dipakai oleh BI.

SDR sendiri merupakan instrumen yang dikembangkan oleh IMF sejak tahun 1969, yang merupakan aset cadangan devisa. Tujuannya, agar cadangan devisa suatu negara menjadi lebih kuat.

Seperti diberitakan sebelumnya, polemik ini muncul setelah mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklarifikasi pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai utang Indonesia ke IMF. SBY mengatakan pemerintah Indonesia sudah tidak memiliki utang ke IMF sejak tahun 2006.

Namun Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengatakan, berdasarkan data Bank Indonesia, Indonesia kembali memiliki pinjaman ke IMF pada tahun 2009 sebesar US$ 2,9 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×