kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.965.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.830   0,00   0,00%
  • IDX 6.438   38,22   0,60%
  • KOMPAS100 926   8,20   0,89%
  • LQ45 723   5,45   0,76%
  • ISSI 205   2,17   1,07%
  • IDX30 376   1,61   0,43%
  • IDXHIDIV20 454   0,42   0,09%
  • IDX80 105   1,01   0,98%
  • IDXV30 111   0,45   0,40%
  • IDXQ30 123   0,28   0,22%

Menakar Dampak Tarif Impor Trump Terhadap Tingkat Inflasi Domestik


Rabu, 16 April 2025 / 18:50 WIB
Menakar Dampak Tarif Impor Trump Terhadap Tingkat Inflasi Domestik
ILUSTRASI. Aktivitas bongkar muat petikemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/2/2025). Sejumlah ekonom memprediksi, pengenaan penuh kebijakan Tarif Trump sebesar 32% ke Indonesia tidak akan berdampak signifikan pada tingkat inflasi domestik.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

Ditambah lagi dengan bea masuk ekspor ke AS yang meningkat akibat kebijakan Tarif Trump, sehingga ini  bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya Indonesia sendiri diklaim Trump mengenakan tarif 64% atas bea masuk barang AS ke Indonesia.

Menurut Rizal, kenaikan tarif impor AS maupun mitra sekutunya akan berdampak pada biaya input industri domestik, terutama di sektor-sektor yang bergantung seperti manufaktur berorientasi ekspor, agribisnis modern, dan farmasi. 

Baca Juga: Ekspor SDA RI Tertekan Tarif Impor Trump

"Tekanan ini dapat semakin memburuk jika disertai depresiasi rupiah, akibat meningkatnya ketidakpastian global dan pelarian modal ke aset dolar AS, yang secara langsung mempermahal biaya impor Indonesia," ungkap Rizal kepada Kontan, Rabu (16/4).

Meski demikian, Ia menilai tekanan inflasi dapa diatasi apabila terdapat sinergi kebijakan yang cepat dan tepat antara otoritas fiskal dan moneter, dimana Bank Indonesia perlu mengoptimalkan instrumen stabilisasi nilai tukar dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terjaga, meskipun berisiko menekan konsumsi akibat pengetatan moneter.

"Saat ini, tekanan deflasi lebih disebabkan oleh lemahnya daya beli, stagnasi upah riil, dan efek PHK di sektor padat karya, namun jika tarif Trump diterapkan, tekanan tersebut dapat beralih menjadi inflasi sisi penawaran (cost-push inflation) akibat naiknya biaya produksi dan harga barang impor," ungkap Rizal.

Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah Berhati-Hati Hitung Untung Rugi Kebijakan Tarif Impor Trump

Dalam skenario moderat, Rizal memproyeksikan inflasi berpotensi meningkat 1–2% di atas baseline, sehingga proyeksinya pada 2025 bisa mencapai 3,5%–5,0%, lebih tinggi dari target awal pemerintah sebesar 2,8%. 

"Tanpa intervensi yang tepat, situasi ini bisa memunculkan risiko stagflasi ringan, sehingga dibutuhkan bauran kebijakan yang seimbang untuk menjaga daya beli sekaligus mengendalikan tekanan harga agar tidak menghambat pemulihan ekonomi nasional," ungkap Rizal

Selanjutnya: Aplikasi Kantong UMKM Perkuat Kebijakan Subsidi Bunga Pemkot Depok

Menarik Dibaca: 5 Makanan yang Tidak Boleh Dipanaskan Kembali, Awas Beracun!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×