Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu memaparkan hasil survei mendalam terkait kondisi psikologis dan strategi sektor swasta di tengah meningkatnya guncangan ekonomi global pada awal 2026.
Dalam forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Mari mengungkapkan terdapat tiga kecemasan utama yang kini membayangi pelaku usaha di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
Temuan tersebut merujuk pada ASEAN Geoeconomics Report yang memotret bagaimana sektor swasta memandang risiko geopolitik yang kian tajam dan berdampak langsung pada aktivitas bisnis.
Menurut Mari, isu fragmentasi ekonomi menjadi kekhawatiran terbesar dunia usaha saat ini. Fragmentasi tersebut dinilai mengganggu stabilitas rantai pasok global akibat meningkatnya tensi geopolitik antarnegara.
Baca Juga: DEN Sebut Ketikdakpastian Global Kembali Melonjak di Awal 2026
"Dan mereka mengatakan apa yang paling mereka khawatirkan adalah fragmentasi ekonomi, karena rantai pasok terganggu oleh geopolitik," ujar Mari dalam forum tersebut, Selasa (3/2/2026).
Selain fragmentasi ekonomi, pelaku usaha juga mencermati risiko lonjakan impor dari Tiongkok. Kekhawatiran ini muncul seiring perubahan arah ekspor Negeri Tirai Bambu yang menghadapi hambatan akses ke pasar Amerika Serikat.
"Ada ketakutan akan peningkatan impor dari Tiongkok, dan saat mereka mencari pasar baru karena tidak bisa mengekspor ke Amerika Serikat (AS)," katanya.
Kekhawatiran ketiga adalah munculnya blok-blok perdagangan regional yang semakin eksklusif dan berpotensi membatasi akses pasar lintas kawasan.
Menghadapi tantangan tersebut, Mari menekankan pentingnya posisi ASEAN yang solid dalam merespons ketidakpastian global.
Ia menilai langkah kawasan yang memperkuat integrasi ekonomi internal serta mengoptimalkan implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan strategi yang tepat.
Baca Juga: Prabowo Akan Lantik Anggota DEN dan BP3R di Istana Sore Ini
Menurutnya, pendekatan kolektif di tingkat regional menjadi kunci untuk menjaga daya saing dan ketahanan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks.
Mari juga mengingatkan bahwa ketidakpastian global saat ini bukanlah fenomena sementara, melainkan bersifat permanen dan bahkan berpotensi memburuk.
Karena itu, ia menyerukan agar pemerintah dan pelaku usaha meninggalkan pendekatan kebijakan lama yang tidak lagi relevan dengan dinamika baru ekonomi global.
"Caranya merespons risiko tinggi adalah dengan diversifikasi," pungkasnya.
Selanjutnya: Modal Tebal, Perbankan Siap Tancap Gas di Tahun 2026
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 4 Februari 2026, Peluang Banyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












