Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Gizi Nasional (BGN) merespons wacana perubahan durasi pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut-sebut akan dipangkas demi efisiensi APBN.
Pemerintah menegaskan bahwa durasi pemberian MBG pada 2026 akan sangat bergantung pada kalender operasional masing-masing satuan pendidikan.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan bahwa pada tahun ini pihaknya berfokus pada peningkatan kualitas layanan sesuai instruksi Presiden, sekaligus menjaga efektivitas program.
Baca Juga: Kemenkeu Kekurangan SDM, Purbaya Mau Pindah 213 Pegawai DJA ke DJP
Perubahan durasi dari yang semula dipukul rata enam hari menjadi menyesuaikan kehadiran siswa merupakan bagian dari strategi penyaluran.
"Tahun 2026 BGN fokus pada peningkatan kualitas seperti instruksi Presiden dan juga menjaga efektivitas program," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (27/3/2026).
Dadan menjelaskan, skema penyaluran MBG tetap berbasis pada makanan segar siap santap yang dikirimkan langsung kepada penerima manfaat.
Data penerima telah terintegrasi, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita di posyandu, hingga santri di pondok pesantren dan siswa di sekolah masing-masing.
Terkait isu pemangkasan hari, Dadan menyebut bahwa khusus untuk anak sekolah, MBG akan disalurkan selama mereka hadir di sekolah.
"Khusus untuk anak sekolah, MBG akan disalurkan bila mereka hadir di sekolah. Jika sekolah lima hari maka mereka akan mendapatkan MBG lima hari, sementara jika ada sekolah yang enam hari maka MBG diberikan enam hari," jelasnya.
Dadan menuturkan, saat ini mayoritas sekolah di Indonesia telah menerapkan sistem lima hari sekolah.
Baca Juga: BI: Uang Beredar Tumbuh Melambat Jadi Rp 10.089,9 Triliun Pada Februari 2026
Dengan demikian, penyaluran MBG secara otomatis menyesuaikan lama hari belajar tersebut.
"Berdasarkan data yang ada, mayoritas lama sekolah lima hari. Jika libur, maka MBG berhenti disalurkan," tambah Dadan.
Lebih lanjut, Dadan mengatakan kondisi ini berbeda dengan kebijakan pada 2025, di mana hampir semua sekolah mendapatkan jatah enam hari, termasuk paket makanan yang bisa dibawa pulang pada hari Jumat.
"2025 semua sekolah kan enam hari. Jumat selain mendapat makanan segar, juga untuk dibawa pulang. Tahun 2026 ini basis kita makanan segar. Jadi yang sekolah lima hari mendapat MBG lima hari, yang enam hari mendapat enam hari. Mayoritas sekolah lima hari," tegasnya.
Di sisi lain, untuk menjamin standar layanan di lapangan, BGN juga akan memperketat pengawasan terhadap infrastruktur pendukung.
"Sertifikasi dan klasifikasi SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) akan menjadi fokus kebijakan," pungkasnya.
Baca Juga: Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Pastikan Pasokan BBM Aman, Defisit APBN Terkendali
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, terdapat rencana efisiensi program MBG melalui pengurangan jumlah hari operasional.
Ia menyebut, penyaluran MBG dipangkas menjadi lima hari dari sebelumnya enam hari dalam sepekan. Menurutnya, langkah ini berpotensi menghemat anggaran hingga Rp 40 triliun per tahun.
"Kan biasa seminggu enam hari, dia bilang lima hari. Jadi ada efisiensi juga dari MBG, ada pengurangan cukup banyak. Dia bilang aja (hemat) Rp 40 triliun setahun, hitungan pertama kasar, tapi bisa lebih," kata Purbaya di Jakarta, Rabu (25/3).
Lebih lanjut, Purbaya menyatakan bahwa pengurangan hari pemberian MBG tersebut masih bersifat usulan dari BGN dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan perlu dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden.
"Nanti biar Pak Kepala BGN yang umumkan, kan dia juga harus lapor Presiden," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













