kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Lebih dari 1.700 Siswa dan Guru Keracunan dalam Sepekan akibat Program MBG


Kamis, 03 September 2026 / 18:24 WIB
Lebih dari 1.700 Siswa dan Guru Keracunan dalam Sepekan akibat Program MBG
ILUSTRASI. BGN batasi waktu konsumsi MBG (ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi sorotan setelah lebih dari 1.700 siswa dan guru dilaporkan mengalami keracunan makanan dalam sepekan terakhir di sejumlah daerah.

Kasus terbaru terjadi di Lasem, Jawa Tengah. Sebanyak 752 siswa dan 25 guru di sebuah sekolah menengah atas mengalami diare dan muntah setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG pada Rabu (2/9/2026).

Kepala sekolah Juhartutik mengatakan, menu yang dibagikan berupa ayam bakar. Sebelum makanan didistribusikan, petugas pemeriksa makanan menemukan sebagian ayam dalam kondisi berlendir dan langsung memisahkannya.

Baca Juga: BGN Ingatkan Siswa Tak Bawa Pulang Makanan Program MBG, Apa Alasannya?

"Yang berlendir sudah disisihkan. Operator dapur mengatakan makanan dimasak pukul 03.00 dan baru dimakan siang hari," kata Juhartutik seperti dilaporkan Reuters.

Sebanyak 15 siswa dan guru harus menjalani perawatan di rumah sakit, menurut dokter setempat, Joko Paryanto. Sebagian besar korban lainnya diperbolehkan pulang.

Kasus di Lasem menambah panjang daftar insiden keracunan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (1/9/2026), sebanyak 664 siswa di Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Sementara pada Rabu (2/9), kasus serupa terjadi di Nganjuk, Jawa Timur, yang berdampak terhadap 49 orang, serta di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dengan 237 korban.

Anggota parlemen Charles Honoris mengatakan, rangkaian kasus tersebut menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam pelaksanaan program MBG.

"Ini adalah kegagalan sistem," ujar Charles melalui unggahan di Instagram, dengan mengutip data dinas kesehatan setempat.

Baca Juga: Program MBG Perlu Audit dan Pengawasan Ketat

Menurut Charles, hingga 1 September 2026, sekitar 50.000 orang telah terdampak kasus keracunan makanan yang berkaitan dengan program MBG.

Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga yang mengawasi program dengan anggaran sekitar US$12,94 miliar tersebut, belum memberikan tanggapan atas rangkaian kasus terbaru. BGN sebelumnya menghentikan operasional dapur yang memasok makanan dalam kasus keracunan di Sidoarjo.

Persoalan keamanan pangan menjadi salah satu tantangan utama program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto tahun lalu. 

Program tersebut ditujukan untuk memperbaiki asupan gizi puluhan juta anak di Indonesia, namun dalam pelaksanaannya berulang kali menghadapi kasus keracunan massal.

Penyimpanan makanan yang tidak tepat serta keterlambatan pengiriman makanan matang menjadi sejumlah faktor yang kerap dikaitkan dengan kasus keracunan.

Baca Juga: Kepala BGN Nanik S Deyang Merapat ke Istana, Bahas Soal Efisiensi Program MBG

Masalah tersebut juga mulai memengaruhi persepsi publik terhadap program MBG. 

Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli lalu menunjukkan hanya sekitar sepertiga responden yang menyatakan puas terhadap program tersebut. Kasus keracunan makanan menjadi salah satu alasan utama ketidakpuasan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×