Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan serta mempertahankan kepercayaan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan sinergi antarotoritas menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan arus modal tetap masuk ke pasar domestik.
"Hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan II-2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya konflik geopolitik, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang kuat antarotoritas," ujar Purbaya dalam konferensi pers KSSK, Selasa (3/8/2026).
Baca Juga: Prabowo Bidik Perdagangan RI-Thailand Tembus US$ 20 Miliar pada 2030
Menurut Purbaya, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arus modal serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menyebut tekanan global masih cukup tinggi, terutama akibat eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter negara maju.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat dinilai mampu menjaga daya tarik investasi domestik.
"Risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," kata Purbaya.
Investor Asing Masih Masuk ke Pasar SBN
Upaya menjaga kepercayaan investor tercermin dari arus modal asing yang masih masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Purbaya menyampaikan investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih (net buy) SBN sebesar Rp32,09 triliun sepanjang kuartal II-2026. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp6,99 triliun.
Namun, tekanan global masih membayangi pasar keuangan domestik. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun meningkat 31 basis poin secara kuartalan menjadi 7,14% pada akhir kuartal II-2026.
Kenaikan yield tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya risiko global akibat konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Baca Juga: Kepala BGN Copot 137 Kepala SPPG, Tegaskan Nol Toleransi Keracunan dan Korupsi
BI Perkuat Stabilitas Rupiah dan Dorong Inflow
Sementara itu, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia.
"Ketahanan eksternal perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global," ujar Destry.
BI, lanjut Destry, menempuh sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasar, mulai dari optimalisasi intervensi di pasar valuta asing (valas), penguatan likuiditas pasar uang dan perbankan, hingga pemberian insentif bagi aliran masuk investasi portofolio asing.
Selain itu, BI juga memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valas guna meningkatkan efisiensi pasar keuangan domestik.
"Kebijakan moneter diarahkan untuk memperkuat stabilitas melalui penyesuaian BI Rate, optimalisasi intervensi pasar valas, pemberian insentif bagi aliran masuk investasi portofolio asing, serta pengelolaan kecukupan likuiditas," jelas Destry.
Destry menyebut kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, kenaikan suku bunga tersebut bertujuan mendorong penyesuaian harga aset rupiah (repricing) sekaligus memberikan spread yang lebih menarik terhadap aset berbasis rupiah.
"Kenapa kita berani melakukan hal tersebut, karena pada saat itu pertumbuhan kredit masih kuat. Pada Juni kemarin tumbuh di atas 12%. Sementara pada saat yang sama kita menghadapi tekanan stabilitas, khususnya rupiah dan inflasi yang trennya naik pada volatile food," ujar Destry.
Baca Juga: BGN Siapkan Portal Aduan, Buka Ruang Laporan Mitra dan Kepala SPPG
Karena itu, BI memilih memprioritaskan stabilitas dengan menaikkan suku bunga. Dampaknya mulai terlihat dari masuknya aliran modal asing.
"Pertama tentu inflow. Inflow memang baru masuk ke SBN dan SRBI, sehingga di kuartal II-2026 cukup signifikan. Total sudah terjadi inflow sekitar US$ 8,5 miliar sampai US$ 9 miliar. Itu tentunya akan menambah cadangan devisa kita," katanya.
APBN Jadi Penopang Kepercayaan Investor
Dari sisi fiskal, pemerintah terus menjaga kredibilitas APBN melalui pengelolaan pendapatan, belanja, dan pembiayaan secara terukur.
Hingga akhir kuartal II-2026, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4% secara tahunan. Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau tumbuh 17,8% secara tahunan.
Purbaya menegaskan APBN tetap diarahkan sebagai instrumen stabilisasi untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung program prioritas pemerintah, serta mempertahankan kepercayaan pelaku pasar.
Ke depan, KSSK memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat untuk menghadapi berbagai risiko global sekaligus menjaga keberlanjutan arus modal masuk ke Indonesia.
Dengan sinergi kebijakan tersebut, pemerintah optimistis stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat berlanjut di tengah tantangan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
