Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tak sampai 5% pada kuartal III 2025, sejalan dengan tren konsumsi yang diprediksi melandai.
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 hanya akan mencapai kisaran 4,7% hingga 4,9% year on year (yoy), lebih rendah dari kuartal II 2025 sebesar 5,12% yoy.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya akan tumbuh kisaran 4,5% hingga 4,8% yoy, lebih rendah dari kuartal II 2025 sebesar 4,97% yoy.
Yusuf menyebut, pertumbuhan konsumsi pada kuartal III 2025 lebih landau lantaran taka da komentum musiman, seperti liburan sekolah, dan belanja terkait hari besar keagamaan atau libur bersama.
“Maka di kuartal III tren ini cenderung mereda karena konsumsi telah ter-front loaded (terealisasi didepan),” tutur Yusuf kepada Kontan, Kamis (28/8/2025).
Baca Juga: Tuntutan Masyarakat Tak Terjawab, Ekonom: Ekonomi Indonesia Berisiko Memburuk
Selain itu, ia melihat sejumlah indikator seperti indeks penjualan ritel, kepercayaan konsumen, dan penjualan barang tahan lama juga menunjukkan gejala pelemahan, menandakan rumah tangga mulai menahan belanja di tengah ketidakpastian pekerjaan dan tekanan di sektor manufaktur.
Menurutnya, meski ada faktor penopang seperti pelonggaran suku bunga Bank Indonesia (BI) dan stimulus fiskal yang diharapkan dapat menjaga daya beli, dampaknya kemungkinan baru terasa bertahap dan tidak cukup kuat untuk menahan perlambatan konsumsi jangka pendek.
Untuk keseluruhan tahun 2025, perekonomian Indonesia diperkirakan hanya mampu tumbuh sekitar 4,7% hingga 4,9% atau berpotensi berada di bawah 5%.
Yusuf melihat, capaian pertumbuhan kuartal II sebesar 5,12% yoy lebih banyak dipengaruhi oleh efek basis dan belanja publik yang tinggi, yang sulit dipertahankan di paruh kedua tahun.
Selain itu, lemahnya permintaan domestik, perlambatan ekspor, serta tekanan di pasar tenaga kerja membuat ruang akselerasi ekonomi terbatas.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tetap Solid di Semester II-2025
Oleh karena itu, ia menambahkan, strategi kebijakan perlu diarahkan pada penguatan konsumsi rumah tangga melalui stimulus fiskal yang tepat sasaran, penyaluran kredit produktif untuk UMKM, dan langkah cepat menahan pelemahan tenaga kerja manufaktur.
“Koordinasi fiskal-moneter menjadi kunci agar stimulus mampu menjaga daya beli masyarakat tanpa menimbulkan ketidakseimbangan makro di tahun-tahun berikutnya,” tandasnya.
Selanjutnya: Satgas PKH Menyapu Tambang Gelap untuk Diserahkan ke Mind ID
Menarik Dibaca: Promo Holland Bakery x BNI Cuma 2 Hari, Beli Roti Favorit Diskon 50%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News