kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.525   25,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kisruh beras dan garam picu ekonomi lesu


Jumat, 04 Agustus 2017 / 20:30 WIB


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai, ekonomi lesu diakibatkan dua hal. Pertama, kecenderungan masyarakat menengah ke atas menahan daya beli. Kedua, daya beli rendah di masyarakat kecil. 

Tapi, banyak orang saat ini berpersepsi kondisi ekonomi saat ini tidak kondusif. Alhasil seolah-olah daya beli menurun.

"Hal ini bermula sejak kegaduhan mengenai beras dan garam terjadi. Orang-orang menjadi menahan belanja, sementara yang lain daya belinya menurun," terang Hariyadi kepada KONTAN, Jumat (4/8).

Menurut Hariyadi, hal utama yang harus dilakukan adalah tidak membesarkan-besarkan suatu masalah kepada publik. Pasalnya, dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketakutan bagi pelaku usaha.

Saat ini, memang sudah ada upaya pemerintah mendorong ekonomi. Misalnya mendorong penurunan bunga, yang ujungnya bisa meningkatkan permintaan kredit. Tapi, hal ini bukan penyelesaian.

"Kalau Bank Indonesia mau menurunkan suku bunga, itu akan lebih baik. Namun menurut saya bukan itu masalah utamanya. Menurut saya juga sekarang suku bunga cukup moderat. Yang peling penting adalah menghilangkan persepsi tadi atas tidak kondusifnya ekonomi," tutur Hariyadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×