Reporter: Arif Ferdianto, kompas.com | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green dinilai memberikan manfaat bagi keuangan negara. Langkah tersebut diprediksi mampu memperkuat ketahanan fiskal nasional di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pakar Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti menilai, penyesuaian harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter dapat membantu menjaga stabilitas fiskal.
Berdasarkan simulasi yang menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode 2019–2024 terhadap 1,36 juta rumah tangga, kebijakan tersebut diperkirakan menghemat anggaran negara sekitar Rp 11,4 triliun per tahun.
Selain itu kebutuhan devisa hingga US$ 600 juta. Menurut Yayan, tanpa penyesuaian harga, pemerintah berpotensi menanggung tambahan beban fiskal hingga Rp 27,7 triliun per tahun.
Meski berkontribusi terhadap penghematan anggaran negara, kenaikan harga Pertamax memaksa sebagian pengemudi ojek online (ojol) harus memutar otak untuk menjaga efisiensi biaya operasional dan pendapatan harian mereka.
Sejumlah pengemudi mengaku jumlah pesanan masih relatif stabil sehingga pendapatan mereka belum mengalami perubahan signifikan. Dikutip dari Warta Kota, Mahdi, pengemudi ojol asal Depok mengaku, rata-rata pesanan masih sekitar 20 order per hari.
Ia tetap mengandalkan Pertalite untuk operasional sehari-hari dan hanya menggunakan Pertamax saat antrean Pertalite terlalu panjang.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Harga BBM di Negara Tetangga Malaysia & Vietnam Lebih Murah
Namun, tidak semua pengemudi mengalami kondisi serupa. Nur Aziz, pengemudi ojol yang bergabung sejak 2017, mengaku mulai merasakan penurunan jumlah pesanan setelah harga Pertamax naik. Untuk menekan biaya operasional, ia kini beralih menggunakan Pertalite karena tidak lagi mampu menggunakan Pertamax secara rutin.
Para pengemudi juga mulai mencari berbagai cara untuk menyiasati kenaikan harga BBM. Di Yogyakarta, pengemudi ojol khawatir kenaikan Pertamax akan mendorong lebih banyak pengguna beralih ke Pertalite sehingga antrean di SPBU semakin panjang dan mengurangi waktu produktif mereka di jalan.
Sementara di Malang, sejumlah pengemudi mengaku memanfaatkan jaringan sesama driver untuk mencari SPBU dengan antrean lebih singkat serta memilih mengisi bahan bakar hingga penuh agar tidak perlu bolak-balik mengantre.
Lain lagi harapan Saputra. "Semoga harga Pertalite tak berubah dan jangan sampai barangnya kosong,” kata pengemudi ojol yang menekuni pekerjaan ride hailing sejak tahun 2020 itu.
Bagi sebagian pengemudi, selisih harga Pertamax yang mencapai Rp 3.950 per liter dinilai cukup membebani. Dengan kebutuhan sekitar lima liter sekali pengisian, tambahan biaya hampir Rp 20.000 dianggap cukup berarti karena setara dengan beberapa kali biaya parkir atau satu kali makan siang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













