kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Kata Ekonom Terkait Pembagian Bansos di Tahun Politik


Rabu, 20 Juli 2022 / 19:32 WIB
ILUSTRASI. Seorang warga memperlihatkan uang yang diterimanya saat pencairan Bantuan Sosial Tunai (BST) di RW 02 Kelurahan Bedahan, Depok (13/4/2021). Anggaran Tertekan, Bansos Sulit jadi Komoditi Politik.


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sebentar lagi memasuki tahun politik. Dalam suksesi di hajatan politik, dana bantuan sosial (bansos) kerap dijadikan sebagai alat kontrol oleh partai politik ataupun politisi untuk mendulang suara warga.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy mengatakan terkait dengan anggaran bansos untuk menyambut tahun politik biasanya memiliki pola yang sama, dimana setiap pemimpin yang akan habis masa jabatanya akan menjalankan kebijakan anggaran politik tertentu.

“Dan biasanya memang sebagai bansos, ada tanggung jawab moril di sana. Meski demikian sebenarnya kebijakan ini secara tidak langsung juga menguntungkan bagi masyarakat terutama yang mendapatkan bantuan,” kata Rendy pada Kontan.co.id, Rabu (20/7).

Namun kata Rendy, lagi-lagi isu dari kebijakan ini pada penyaluran bantuan yang sangat bergantung kepada ketepatan data oleh pemerintah terkait. Terlebih pada tahun politik umumnya pemberian bansos terkesan memiliki tujuan lain yaitu menarik simpati semua masyarakat.

Baca Juga: Para Pejabat Negara Lapor SPT Tahunan Serentak Secara Online

Oleh karenanya pemberian bansos pada tahun politik harus ada pengawasan yang lebih ketat.

Selanjutnya, Rendy mengungkapkan, untuk menjalankan kebijakan anggaran tahun politik terutama untuk 2024 nanti tidaklah sesederhana menjalankan kebijakan yang serupa di periode atau tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini dikarenakan, saat ini keadaan fiskal kita tengah berjuang untuk mengembalikan defisitnya ke level 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun 2023 nanti.

Di saat yang bersamaan, pemerintah juga mempunyai beberapa agenda termasuk di dalamnya pembangunan infrastruktur dan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang pada akhirnya harus mendorong adanya prioritas anggaran.

Baca Juga: DPR: Dana Jumbo Proyek Infrastruktur dan Perlindungan Sosial Kurangi Tekanan Ekonomi

“Jadi kalaupun kebijakan anggaran di tahun politik ini kembali muncul menurut saya potensi nilai yang akan dikeluarkan bisa saja tidak lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya,” terang Rendy.

“Karena apa? karena ada prioritas anggaran yang harus dipenuhi terlebih dahulu menjelang berakhirnya masa kepemimpinan pemerintahan yang berlaku saat ini,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×