kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Jusuf Kalla: Kalau jago demo kan selalu di Makassar, mahasiswa itu apa saja didemokan


Kamis, 10 Oktober 2019 / 07:20 WIB

Jusuf Kalla: Kalau jago demo kan selalu di Makassar, mahasiswa itu apa saja didemokan
ILUSTRASI. Vice President of Indonesia Muhammad Jusuf Kalla addresses the 74th session of the United Nations General Assembly at U.N. headquarters in New York, U.S., September 27, 2019. REUTERS/Lucas Jackson

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai media berperan penting dalam membesarkan skala sebuah demonstrasi. Ia meyakini eskalasi demonstrasi dapat membesar lantaran media meliput dan menyiarkannya.

"Kalau jago demo kan selalu di Makassar. Mahasiswa itu apa saja didemokan. Saya bilang, kenapa coba (jadi besar)? Karena media," ujar Kalla dalam pembukaan Rapat Pimpinan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (9/10).

"Kadang anak mahasiswa itu katanya, kalau mau demo hari ini undang TV, janjian, jam berapa demo. Jam 10.00 WIB atau jam 13.00 WIB ditelepon keluarganya di kampung. Lihat nati saya akan demo. Begitu pulang (wartawan) TV, berhenti juga demonya," lanjut dia.

Baca Juga: Dukung penuh Jokowi, Golkar siap amankan pelantikan presiden

Karena itu, Kalla meminta media massa di Indonesia bijak dalam meliput dan menyiarkan demonstrasi agar tak membesar dan akhirnya merugikan masyarakat di sekitarnya. Kalla juga mengingatkan pemberitaan demonstrasi yang vulgar dan berkepanjangan akan menimbulkan efek meniru bagi yang menonton.

Karena itu, ia meminta media bisa meliput dan menyiarkan berita demonstrasi secara proporsional. Saat ini, pemerintah tidak lagi bisa menyensor berita demonstrasi seperti pada zaman Orde Baru. Karena itu, ia meminta media bijak dalam menayangkannya.

"Kalau mau menghentikan demo yang merusak di Makassar, jangan meliput terlalu panjang, jangan ulas, jangan live dari Makassar sekian batu sudah dilempar. Aduh, itu akan tetap menjadi demo terus seperti itu," ujar Kalla.

Baca Juga: Peneliti LIPI: Waktu paling tepat terbitkan Perppu KPK setelah pelantikan presiden

"Jadi media itu harus mempunyai efek akibat. Kalau media diberi peringatan, itu karena bisa berakibat, bisa membahayakan persatuan bangsa, bisa membahayakan ketertiban. Jadi harus ada kesepakatan, apa yang tidak boleh dan yang membahayakan, seperti itu contohnya," lanjut dia. (Rakhmat Nur Hakim)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wapres Kalla: Kenapa Demonstrasi Jadi Besar? Karena Media...",

 


Sumber : Kompas.com
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan


Close [X]
×