kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Jumlah Peserta Program Magang Ditambah Jadi 150.000, Buruh Minta Fokus Kerja Tetap


Kamis, 28 Mei 2026 / 17:03 WIB
Jumlah Peserta Program Magang Ditambah Jadi 150.000, Buruh Minta Fokus Kerja Tetap
ILUSTRASI. Jadi Pionir, Yayasan SUN Latih Ratusan Siswa SMK di Kudus Cetak Lulusan Siap Kerja di Industri PLTS (Dok/Yayasan Sinar Utama Nusantara (Yayasan SUN))


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program magang nasional dipastikana akan berlanjut di tahun ini. Pemerintah akan membuka kesempatan untuk 150.000 peserta, jumlah ini bertambang dari tahun sebelumnya yang dibuka hanya 100.000 peserta.  

Merespon hal ini, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban mengingatkan bahwa program ini tidak boleh dianggap sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan. 

Elly menyebut meskipun urgensi program ini cukup tinggi untuk menjembatani lulusan muda ke dunia kerja, sifat dari kebijakan tersebut tetaplah temporer. 

Baca Juga: Pergerakan Jemaah ke Mina Tahun Ini Jauh Lebih Cepat, Muzdalifah Clear Pukul 07.00

"Program magang hanya solusi jangka pendek, penciptaan lapangan kerja tetap yang utama," ujarnya pada Kontan, Kamis (28/5/2026). 

Menurut Elly, pasar kerja saat ini memang menghadapi tantangan besar berupa kesenjangan kompetensi (skill mismatch) antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. 

Kehadiran program magang tahun diakui dapat membantu lulusan baru tingkat sarjana maupun diploma untuk mendapatkan pengalaman kerja awal, yang sering kali menjadi sandungan utama dalam proses rekrutmen. 

Meski demikian, KSBSI menggarisbawahi bahwa program magang pada hakikatnya bukan instrumen utama untuk menciptakan lapangan kerja baru, melainkan hanya sarana meningkatkan kelayakan kerja (employability) para peserta. 

Oleh karena itu, keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari penyerapan kuota 150 ribu peserta di awal, melainkan dari tingkat penyerapan menjadi karyawan tetap pascaprogram selesai. 

"Jika tidak disertai dengan penciptaan pekerjaan tetap, maka program magang ini hanya akan menjadi solusi sesaat. Setelah masa magang habis, mereka berisiko kembali masuk ke daftar pengangguran," tegas Elly. 

Baca Juga: Jemaah Pilih Tidur di Luar Tenda Mina, Ini Sejumlah Alasannya

Lebih lanjut, KSBSI menilai persoalan keselarasan antara dunia pendidikan dan industri (link and match) di Indonesia sudah berada pada tahap struktural. 

Merujuk pada data ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan pendidikan tinggi (Diploma IV hingga S3) justru masih berada di angka 6,13% per Februari 2026, lebih tinggi dibandingkan TPT nasional yang berada di level 4,68%. Selain itu, terdapat sekitar 35,36% usia muda yang mengalami vertical mismatch atau bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. 

Elly menilai program magang yang masif saat ini baru menyentuh pembenahan di sisi hilir, yaitu memberikan keterampilan praktis bagi lulusan yang sudah terlanjur selesai kuliah. 

Sementara itu, akar masalah di sisi hulu yakni kurikulum pendidikan yang tidak sinkron dengan kebutuhan industri berkembang belum sepenuhnya terbenahi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×