kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Jual beli suara terparah ada di tingkat kecamatan


Selasa, 11 Februari 2014 / 22:40 WIB
ILUSTRASI. Cara Alami dan Efektif untuk Mengatasi Gangguan Tidur


Sumber: TribunNews.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Fenomena jual beli suara sering terdengar menjelang pemilu. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengungkapkan praktik jual beli suara paling parah banyak terjadi di tingkat kecamatan.

Hal ini disampaikan Ketua Bawaslu, Muhammad. Menurutnya, kesuksesan penyelenggaraan pemilu tak bisa hanya dibebankan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Bawaslu semata.

"Ini sangat berat. Saya menemukan jual beli suara yang paling parah ada di tingkat kecamatan atau desa," kata Muhammad di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (11/2/2014).

Muhammad pun meminta kepada setiap kepala daerah untuk menyediakan fasilitas yang sesuai standar untuk anak buahnya di lapangan. Ia membeberkan alasan kenapa setiap pemda seharusnya memberikan fasilitas memadai bagi petugas Panwaslu di lapangan.

"Saya titip pasukan saya yang di bawah. Mereka ini masih adhoc, masih sementara. Dari hasil evaluasi kami, kenapa anggota Panwaslu yang adhoc itu tergoda, karena honor sedikit dan fasilitas terbatas. Sehingga digoda peserta pemilu," ungkapnya.

"Karena itu saya minta tolong pada pak Gubernur, Walikota, Bupati, tolong fasilitasi teman-teman saya sesuai UU. Jangan Panwaslu dianggap sebelah mata. Kami tidak minta berlebihan," tambahnya. (Danang Setiaji Prabowo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×