kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.744   36,00   0,20%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

JK: Indonesia bukan neraka maupun surga pajak


Senin, 23 Mei 2016 / 16:54 WIB


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyatakan, tarif pajak di Indonesia termasuk golongan menengah. Dengan demikian, jika ada negara surga pajak atau tax haven, Indonesia bukan golongan negara neraka pajak.

"Indonesia saya kira tengah-tengah, bukan surga, bukan neraka juga," kata Kalla dalam acara pembukaan International Conference on Tax, Investment, and Business 2016 dan 13th Asia Pacific Tax Forum di Jakarta, Senin (23/5).

Kalla mengatakan, tarif pajak Indonesia tidak serendah tarif pajak di Singapura. Namun, tak setinggi tarif pajak di beberapa negara Skandinavia dan Amerika.

Meski demkian, dibutuhkan struktur tarif pajak yang adil dan seimbang. Ia bilang, tarif pajak yang terlampau tinggi akan merusak suasana investasi. Pun sebaliknya, tarif pajak yang rendah akan membuat pembiayaan infrastruktur menipis.

"Jadi pada dasarnya formula pajak adalah bagaimana membuat keseimbangan antara penerimaan dan investasi, menjaga keadilan antara kaya dan miskin, kesimbangan daerah mampu dan tidak, dan keseimbangan agar negara tidak terlalu boros," ungkapnya.

Sekadar mengingatkan, pemerintah tahun ini mengejar target pajak Rp 1.360 triliun. Enggan mengalami shortfall atau kekurangan amunisi untuk menggenjot infrastruktur, pemerintah juga ngotot mengupayakan pengampunan pajak atau tax amnesty bagi penyimpan dana di luar negeri. Pemerintah berharap, DPR bisa meloloskan RUU tax amnesty di tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×