Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja investasi yang diharapkan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat pada awal 2026.
Hal ini tercermin dari proyeksi realisasi investasi kuartal I-2026 yang hanya tumbuh satu digit, jauh di bawah capaian tahun sebelumnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memproyeksikan realisasi investasi pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai sekitar Rp 497 triliun, atau tumbuh 6,9% secara tahunan. Meski melambat, ia memastikan target kuartalan tetap tercapai.
"Target tiga bulan pertama bisa kami capai sebesar Rp 497 triliun," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Menteri Rosan Proyeksi Realisasi Investasi Kuartal I-2026 Tembus Rp 497 Triliun
Angka tersebut menandai perlambatan dibandingkan tren 2025, ketika pertumbuhan investasi per kuartal masih mampu mencatatkan dua digit. Secara tahunan, realisasi investasi 2025 tumbuh 12,7%, turun dari capaian 20,8% pada 2024.
Pemerintah sendiri menargetkan total investasi pada 2026 sebesar Rp 2.041,3 triliun, sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026. Dalam jangka panjang, akumulasi investasi ditargetkan mencapai Rp 13.032,8 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perlambatan ini tidak lepas dari ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung menahan ekspansi."Dalam situasi perang bukan kondisi normal, semua masih melakukan evaluasi," ujarnya.
Baca Juga: Indef Proyeksi Inflasi Naik Bertahap di Kuartal I-2026, Tertekan Faktor Musiman
Meski begitu, pemerintah melihat minat investor terhadap Indonesia tetap terjaga. Hal ini tercermin dari respons positif pelaku usaha saat kunjungan kerja ke sejumlah negara seperti Inggris, Korea Selatan, dan Jepang.
Dari sisi analisis, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai perlambatan ini lebih merupakan efek normalisasi setelah lonjakan tinggi pada tahun sebelumnya.
"Ini bukan sinyal fundamental melemah, tapi proses normalisasi setelah ekspansi agresif," katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan eksternal tetap signifikan, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik, fragmentasi perdagangan global, hingga arah kebijakan ekonomi dunia yang belum pasti.
Baca Juga: OSS Diperkuat, Investasi Kuartal I-2026 Diproyeksi Tembus Rp 497 Triliun
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang berdampak pada perhitungan biaya dan risiko investasi.
Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai peran pemerintah masih krusial untuk menjaga momentum investasi.
Ia mencontohkan proyek-proyek domestik seperti pembangunan fasilitas program makan bergizi gratis (MBG) dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih sebagai pendorong baru.
Selain itu, hasil kunjungan Presiden ke Jepang yang menghasilkan sejumlah kesepakatan investasi dinilai menjadi sinyal bahwa daya tarik Indonesia di mata investor asing masih kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- pelemahan rupiah
- realisasi investasi
- Investasi Asing
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
- geopolitik
- Program Makan Bergizi Gratis
- Ketidakpastian Global
- Koperasi Desa Merah Putih
- Pertumbuhan Ekonomi 2026
- proyeksi investasi
- Menteri Investasi Rosan Roeslani
- Investasi Q1 2026
- Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet
- Maybank Indonesia Myrdal Gunarto
- Target Investasi Nasional
- Rencana Kerja Pemerintah 2026













