kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.521   21,00   0,12%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Inflasi April 2026 Diprediksi Melandai Pasca Ramadan dan Idul Fitri


Minggu, 03 Mei 2026 / 18:34 WIB
Inflasi April 2026 Diprediksi Melandai Pasca Ramadan dan Idul Fitri
ILUSTRASI. Tekanan inflasi pada April 2026 diperkirakan akan mereda dibandingkan bulan sebelumnya, seiring normalisasi permintaan pasca Ramadan dan Idulfitri. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA.  Tekanan inflasi pada April 2026 diperkirakan akan mereda dibandingkan bulan sebelumnya, seiring normalisasi permintaan pasca Ramadan dan Idulfitri.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede memproyeksikan inflasi tahunan (year on year/YoY) April 2026 turun dari 3,48% pada Maret menjadi sekitar 2,40%. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/MoM) diperkirakan turun dari 0,41% menjadi sekitar 0,11%.

“Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri yang sebagian besar sudah terjadi pada Maret, sehingga tekanan harga pada komoditas pangan, transportasi, pakaian, dan kebutuhan hari raya mulai mereda pada April," ujar Josua kepada Kontan.

Baca Juga: Ekonom Danamon Perkirakan Surplus Neraca Dagang RI US$ 2,48 Miliar Pada Maret 2026

Selain itu, inflasi April juga terbantu oleh meredanya pengaruh basis rendah (low base effect) tahun lalu, terutama terkait diskon tarif listrik pada awal 2025. Di sisi lain, inflasi inti juga diperkirakan mengalami moderasi dari 2,52% menjadi sekitar 2,31%, seiring permintaan masyarakat pasca lebaran yang cenderung melandai.

Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa penurunan inflasi bukan berarti risiko harga sepenuhnya hilang.

“Tekanan harga pangan bergejolak diperkirakan mereda karena harga daging ayam, telur ayam, cabai merah, dan cabai rawit berpotensi turun seiring masuknya masa panen,” jelasnya.

Namun, tekanan dari komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru diperkirakan meningkat. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi dan LPG nonsubsidi, berakhirnya diskon tarif angkutan udara setelah periode mudik, serta tekanan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Bank Mandiri Proyeksi Surplus Neraca Dagang Meningkat Jadi US$ 2,5 Miliar Maret 2026

“Jadi, gambaran inflasi April adalah inflasi umum menurun, tetapi risiko ke depan tetap perlu diwaspadai karena pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi dapat menambah tekanan biaya produksi, transportasi, dan subsidi energi,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×