Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia berhasil meraup dana sebesar ¥172,1 miliar yen atau setara US$ 1,1 miliar dan ekuivalen Rp 18,94 triliun (kurs Rp 17.221 per dolar AS) dari penerbitan Samurai Bond di pasar Jepang.
Hal ini mencerminkan masih kuatnya minat investor global terhadap surat utang Indonesia di tengah tekanan gejolak perang di Timur Tengah. Capaian dana ini menjadi yang terbesar dalam dua tahun terakhir.
Kuatnya permintaan investor mampu mengimbangi kekhawatiran atas tekanan anggaran yang muncul akibat konflik di Timur Tengah.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis (23/4/2026), sebagai penerbit rutin obligasi berdenominasi yen, Indonesia berhasil menggalang dana hampir 70% lebih besar dibandingkan penerbitan terakhirnya di pasar Samurai sekitar setahun lalu.
Baca Juga: Bidik Pasar China, Pemerintah Akan Terbitkan Panda Bond di Semester II 2026
Tranche terbesar dalam penerbitan tersebut adalah obligasi tenor tiga tahun senilai ¥126,3 miliar yen, yang ditawarkan dengan spread 80 basis poin di atas mid-swaps, sedikit lebih tinggi dibandingkan 75 basis poin pada tenor serupa di Mei.
Sementara itu, premi untuk tenor lima dan tujuh tahun tercatat lebih rendah.
Besarnya nilai penerbitan multi-tranche ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap profil kredit Indonesia, meskipun ketegangan di Timur Tengah berpotensi membebani perekonomian melalui kenaikan biaya impor minyak.
Penerbitan ini juga menjadi obligasi Samurai pertama sejak awal tahun fiskal Jepang pada 1 April, periode ketika investor mulai menempatkan dana baru.
Indonesia sendiri telah lama menjadi pemain utama di pasar obligasi Samurai sejak sebelum pandemi. Pada 2024, pemerintah bahkan menghimpun dana setara US$ 1,3 miliar dari penerbitan terbesar sepanjang sejarah di pasar tersebut.
Baca Juga: Pasar Obligasi Tertekan, Pemerintah Hadapi Ujian Tarik Utang di Tengah Gejolak Global
Meski demikian, risiko eksternal masih membayangi. Konflik Iran dinilai dapat memperumit prospek ekonomi Indonesia karena mendorong kenaikan impor energi.
S&P Global Ratings sebelumnya juga memperingatkan bahwa peringkat utang Indonesia berpotensi menghadapi tekanan lebih besar di kawasan jika konflik berlangsung berkepanjangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













