kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Indeks volatilitas melonjak tajam akibat Covid-19, BI: Negara-negara bertindak cepat


Selasa, 28 April 2020 / 19:54 WIB
ILUSTRASI. Gedung kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia menyebabkan tekanan yang besar pada pasar keuangan global. Menurut Bank Indonesia (BI), ini salah satunya tercermin dari lonjakan tajam Volatility Index (VIX).

Bank sentral mencatat, sebelum ada wabah Covid-19, VIX berada di level 18,8. Setelah pandemi ini menyebar, indeksnya sempat meningkat tajam menjadi 83,2, walau per minggu lalu (14/4) VIX sudah berada di level 41,2.

"Kenaikannya bahkan sempat lebih besar bila dibandingkan pada saat krisis keuangan global pada tahun 2008 lalu," tulis BI dalam Buku Kajian Stabilitas Keuangan no. 34 edisi Maret 2020.

Baca Juga: Terganjal virus corona, Freeport Indonesia minta penyelesaian smelter ditunda 1 tahun

Kondisi ini tentunya tidak membawa pengaruh. Bahkan, menyebabkan gejolak pada pasar saham, pasar obligasi, dan pasar valuta asing (valas) di seluruh dunia. Meski begitu, BI mengatakan bahwa hal ini langsung direspons cepat oleh bank sentral negara-negara di dunia.

Seperti contohnya, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang merespon dengan memangkas suku bunga kebijakanya di kisaran 0% - 0,75% alias berada di level terendah sejak tahun 2015.

Tak hanya itu, The Fed bahkan juga melakukan injeksi likuiditas hingga mencapai US$ 700 miliar lewat pembelian Treasury Bond dan Mortgage Backed Securities. "Semangat kebijakan tersebut antara lain untuk meringankan beban industri keuangan, perusahaan, dan rumah tangga," tambah BI.

Tak ketinggalan, BI mengaku juga telah melakukan langkah kebijakan untuk menambah likuiditas dengan melakukan quantitative easing senilai hampir Rp 420 triliun dengan rincian: Stabilisasi nilai tukar rupiah dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 168 triliun, dari repo yang dilakukan bank-bank sebanyak Rp 55 triliun, dan dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar Rp 75 triliun.

Baca Juga: Kondisi keuangan global longgar di semester II-2019, BI: Ini dorong aliran modal




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×