kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.789   55,00   0,31%
  • IDX 6.221   -34,23   -0,55%
  • KOMPAS100 825   -6,05   -0,73%
  • LQ45 625   0,55   0,09%
  • ISSI 212   -0,83   -0,39%
  • IDX30 355   0,75   0,21%
  • IDXHIDIV20 436   1,25   0,29%
  • IDX80 94   -0,15   -0,16%
  • IDXV30 116   -0,32   -0,28%
  • IDXQ30 114   0,59   0,52%

INDEF Menilai Pertumbuhan Ekonomi RI 5% Belum Mencerminkan Perbaikan Kualitas


Rabu, 17 Juni 2026 / 19:12 WIB
INDEF Menilai Pertumbuhan Ekonomi RI 5% Belum Mencerminkan Perbaikan Kualitas
ILUSTRASI. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 (ANTARA FOTO/FAUZAN)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertahan di kisaran 5% dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas ekonomi.

Meski stabil, pertumbuhan tersebut masih lebih banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara investasi dan ekspor belum cukup kuat untuk menjadi mesin pertumbuhan yang berkelanjutan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai sekitar 5,61% yoy menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Namun, struktur pertumbuhannya masih perlu diperkuat agar lebih berkualitas dan inklusif.

Baca Juga: Risiko Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat, Panda Bond Jadi Alternatif

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5% menunjukkan stabilitas, namun kualitasnya masih perlu diperkuat," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi lebih dari 50% terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu, pertumbuhan juga mendapat dukungan dari belanja pemerintah pada periode-periode tertentu.

Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan ekspor belum menunjukkan akselerasi yang cukup kuat untuk menjadi sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan masih bertumpu pada sisi permintaan atau demand-driven, belum sepenuhnya ditopang oleh peningkatan kapasitas produksi dan produktivitas sektor swasta," jelasnya.

Rizal menilai kualitas pertumbuhan ekonomi juga tercermin dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja yang produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, hingga kini pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil belum mampu menghasilkan lapangan kerja formal yang memadai.

Menurutnya, Indonesia tengah menghadapi fenomena jobless growth, yakni kondisi ketika ekonomi tumbuh tetapi penciptaan lapangan kerja tidak berkembang sebanding.

Baca Juga: Komisi III DPR RI Dukung Tambahan Anggaran PPATK untuk Bongkar Aliran Dana Judol

Data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia dalam tujuh tahun terakhir berkurang sekitar 10 juta orang. Di saat yang sama, jumlah pengangguran masih berada di kisaran 7,4 juta jiwa.

"Investasi baru cenderung masuk ke sektor yang lebih padat modal dibandingkan padat karya. Akibatnya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi menghasilkan penciptaan lapangan kerja yang semakin terbatas," kata Rizal.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar tenaga kerja terserap ke sektor informal yang umumnya memiliki produktivitas dan tingkat pendapatan lebih rendah dibandingkan sektor formal.

Karena itu, Rizal menilai pemerintah perlu menggeser orientasi kebijakan ekonomi dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju peningkatan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.

Menurutnya, penguatan sektor manufaktur perlu menjadi prioritas karena memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja dan menciptakan nilai tambah. Selain itu, program hilirisasi juga harus diarahkan agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Di sisi lain, pemerintah perlu mendorong investasi swasta yang bersifat padat karya agar manfaat pertumbuhan ekonomi lebih dirasakan masyarakat luas.

"Fokusnya adalah memperkuat sektor manufaktur, hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah domestik, serta mendorong investasi swasta yang padat karya," ujarnya.

Rizal menambahkan, reformasi birokrasi, peningkatan kepastian hukum, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi, serta integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri juga perlu dipercepat.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya mampu bertahan di atas level 5%, tetapi juga lebih inklusif dan berkelanjutan.

"Dengan langkah tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya mampu bertahan di atas 5%, tetapi juga lebih merata, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang," ujar Rizal.

Baca Juga: Ekonom Soroti Kualitas Pertumbuhan Ekonomi RI, Lapangan Kerja Formal Masih Seret

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×