kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Indef: Kontribusi Pilkada 0,211% pada PDB Nasional Jika Anggaran Sesuai Peruntukan


Selasa, 26 November 2024 / 20:07 WIB
Indef: Kontribusi Pilkada 0,211% pada PDB Nasional Jika Anggaran Sesuai Peruntukan
ILUSTRASI. Warga mencoblos surat suara saat mengikuti simulasi pemungutan dan penghitungan suara pilkada serentak 2024 di Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu ( 3/11/2024). Indef menghitung kontestasi pilkada serentak pada 27 November 2024 berkontribusi 0,211% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menghitung kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang berlangsung pada 27 November 2024 akan berkontribusi 0,211% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menyampaikan, kontribusi pilkada sebesar 0,211% terhadap PDB tersebut akan terasa apabila anggaran pilkada sebesar Rp 37,52 triliun direalisasikan sesuai peruntukannya, dan dibelanjakan di daerah.

Misalnya digunakan untuk sektor jasa seperti percetakan, jasa iklan dan advertising, makanan dan minuman, tekstil (kaos), dan sektor logistik meningkat.

Baca Juga: Belanja Pilkada Dinilai Tak Signifikan Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Ini Penyebabnya

"Namun, respons sektor jasa tersebut jika dilihat perubahannya belum optimal," kata Rizal kepada Kontan, Selasa (26/11).

Meski begitu, ia berharap, adanya kontestasi pilkada ini bisa mendorong kinerja ekonomi, tidak hanya dari sisi konsumsi tetapi juga lapangan usaha, terutama penyerapan tenaga kerja informal.

"Dana yang berputar untuk pilkada ini diperkirakan berdampak terhadap nilai tambah ekonomi di daerah melalui konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah daerah," ungkapnya.

Dalam kesempatan berbeda, Ekonom Center on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan belanja kampanye tidak selalu signifikan mendorong ekonomi daerah.

Baca Juga: Ekonom Sebut Pilkada Jadi Faktor Pertumbuhan Ekonomi yang Toxic

"Pola belanja yang cenderung terkonsentrasi pada vendor-vendor besar di luar daerah, durasi kampanye yang relatif singkat, serta regulasi pembatasan dana kampanye yang membuat nilainya tidak terlalu besar dibanding skala ekonomi daerah secara keseluruhan," tutur Yusuf kepada Kontan, Selasa (26/11).

Umumnya, Yusuf menyebut dampak pilkada terhadap ekonomi biasanya terlihat melalui berbagai aktivitas kampanye dan penyelenggaraan pemilihan.

Misalnya, pencetakan alat peraga kampanye, penyewaan tempat dan kendaraan, konsumsi untuk tim sukses dan relawan, serta berbagai kebutuhan logistik pemilihan.

Baca Juga: Keyakinan Konsumen Jadi Tantangan Emiten Konsumer

Meski demikian, ia melihat kontribusi tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) cenderung bersifat temporer dan terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×