kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Indef: Kebijakan Jokowi 2018 kebijakan paranoid


Jumat, 25 Agustus 2017 / 18:45 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Dessy Rosalina

KONTAN.CO.ID -  Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut, kebijakan ekonomi pemerintah tahun depan merupakan kebijakan paranoid.

Sebab, arah kebijakan pemerintah saat ini berubah dari yang mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi fokus pada pemerataan.

Bhima mengatakan, target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) muluk-muluk. Namun hingga saat ini, target itu terindikasi tidak akan tercapai.

Tahun 2015, pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7%. Namum, realisasinya hanya 4,9%.

"Ketika kebijakan yang mendorong ekonomi tidak bisa tercapai maka Jokowi bilang 'Kita fokus ke pemerataan atau inequality'. Seakan-akan wacananya berubah dari mendorong pertumbuhan menjadi pemerataan. Ini kebijakan paranoid," kata Bhima dalam acara diskusi mengenai RAPBN 2018 di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (25/8).

Lantaran pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi di tahun 2015, realisasi penerimaan pajak juga jauh dari target. Akibatnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak saat itu, Sigit Priadi Pramudito mengundurkan diri.

"Dirjen Pajak mundur bukan karena kesalahan target yang tidak tercapai. Target tidak bisa dicapai karena terlalu optimis dan overshoot. Itu yang menyebabkan kalang kabut," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×