kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.768   59,00   0,33%
  • IDX 6.497   -20,84   -0,32%
  • KOMPAS100 846   -2,26   -0,27%
  • LQ45 641   -0,91   -0,14%
  • ISSI 228   -1,24   -0,54%
  • IDX30 359   -0,27   -0,08%
  • IDXHIDIV20 440   1,08   0,25%
  • IDX80 96   -0,26   -0,26%
  • IDXV30 122   0,61   0,50%
  • IDXQ30 114   0,01   0,01%

Imbas Musim Kemarau, Inflasi Tahunan di Proyeksi 3,2% di Agustus 2026


Senin, 31 Agustus 2026 / 10:52 WIB
Imbas Musim Kemarau, Inflasi Tahunan di Proyeksi 3,2% di Agustus 2026
ILUSTRASI. Ekonom BSI memproyeksi inflasi tahunan di bulan Agustus 2026 naik menjadi 3,2%, dibandingkan inflasi tahunan di Juli 2026 sebesar 2,88% (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Konsumen diproyeksi mencatatkan inflasi meningkat ke kisaran 3,05% hingga 3,20% year on year (YoY) pada Agustus 2026, atau naik dari bulan sebelumnya sebesar 2,88% YoY.

Sementara itu, secara bulanan diperkirakan mencatatkan inflasi 0,15% hingga 0,25% month to month (mtm), setelah pada Juli 2026 mencatat deflasi 0,14% mtm.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo membeberkan, kenaikan inflasi tersebut terutama mencerminkan normalisasi harga pangan setelah volatile food mengalami deflasi cukup dalam sebesar 1,68% mtm pada Juli 2026, sehingga inflasi volatile food turun tajam dari 5,58% menjadi 2,52% YoY.

Baca Juga: Presiden Prabowo Hadiri Penutupan Muktamar NU di Jombang

“Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 diperkirakan meningkat ke kisaran 3,05%-3,20% YoY atau sekitar 0,15%-0,25% mtm," ujar Banjaran kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).

Ia mengatakan, musim kemarau mulai menjadi risiko kenaikan inflasi, meski dampaknya diperkirakan belum sepenuhnya tercermin pada inflasi Agustus.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 79,9% Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Selain itu, sekitar 90,29% wilayah mengalami curah hujan rendah dan 88,61% berada di bawah normal.

Namun, gangguan cuaca membutuhkan waktu untuk memengaruhi produksi, stok, distribusi, hingga akhirnya tercermin pada harga di tingkat konsumen.

Karena itu, Banjaran memperkirakan, tekanan akibat musim kemarau pada Agustus masih relatif terbatas. Dampak yang lebih kuat terhadap inflasi volatile food berpotensi terjadi pada September-November 2026 jika kekeringan berlanjut dan mulai menekan hasil panen.

Di sisi lain, tekanan pangan pada Agustus masih tertahan oleh kondisi stok yang relatif kuat.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga beras medium nasional hingga pertengahan Agustus berada di sekitar Rp13.615 per kilogram (kg), atau masih 6,01% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai lebih dari 5 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,65 juta ton telah disalurkan hingga 21 Agustus 2026.

Baca Juga: Inflasi Diproyeksi Kembali Terjadi di Agustus 2026: Inflasi Bulanan Capai 0,33%

Menurut Banjaran, buffer stok tersebut dapat mengurangi risiko kenaikan harga beras secara cepat meskipun Indonesia telah memasuki puncak musim kemarau.

Dari sisi eksternal, tekanan imported inflation dan administered prices juga diperkirakan lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Penguatan nilai tukar rupiah pada Agustus turut membantu meredam kenaikan harga barang dan bahan baku impor.

Sementara itu, dampak langsung kenaikan harga Pertamax mulai berkurang, meski masih tercermin pada inflasi administered prices yang mencapai 3,58% yoy pada Juli.

"Inflasi inti relatif stabil di 2,76% yoy, sehingga belum menunjukkan tekanan permintaan yang berlebihan," jelas Banjaran.

Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Agustus untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus ekspektasi inflasi.

Dengan kondisi tersebut, Banjaran menilai kenaikan inflasi Agustus lebih banyak berasal dari normalisasi harga volatile food dan tekanan biaya bahan baku, bukan karena lonjakan tekanan inflasi secara luas.

Hal ini juga sejalan dengan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang menunjukkan Indeks Ekspektasi Harga Umum pada Agustus meningkat menjadi 178,0 dari 175,8 pada Juli. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh perkiraan kenaikan harga bahan baku.

Untuk keseluruhan tahun 2026, Banjaran memperkirakan, inflasi berada di kisaran 3,1%-3,3% yoy. Risiko inflasi cenderung meningkat pada kuartal IV 2026.

"Inflasi akhir 2026 diperkirakan berada pada kisaran 3,1%-3,3% yoy, dengan risiko cenderung ke atas pada kuartal IV," kata Banjaran.

Ia memperkirakan tekanan utama akan berasal dari dampak tertunda musim kemarau terhadap produksi dan harga pangan pada September-November 2026.

Risiko tersebut semakin perlu dicermati karena BMKG memperkirakan curah hujan pada periode September-November cenderung rendah hingga menengah, dengan sifat hujan bawah normal hingga normal.

Baca Juga: Resmi! Kemkomdigi Larang Penghapusan Sisa Kuota Internet, Cek Pilihan Penggantinya

Memasuki Desember 2026, tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat seiring kenaikan permintaan musiman menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Selain pangan dan permintaan musiman, risiko harga energi serta pelemahan rupiah juga tetap perlu diperhatikan.

Meski demikian, Banjaran menilai inflasi masih berpeluang berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.

Stok pangan yang relatif kuat, pengendalian harga melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID), serta kebijakan Bank Indonesia diperkirakan dapat menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×