Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia, khususnya pada defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
Kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik diperkirakan akan meningkatkan nilai impor energi Indonesia yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan, Bank Permata Faisal Rachman menghitung, sebelum ketegangan di Timur Tengah meningkat, pihaknya memperkirakan CAD Indonesia berada di kisaran 0,59% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Akan tetapi, meningkatnya tensi geopolitik berpotensi mengubah proyeksi tersebut, terutama melalui jalur kenaikan harga minyak. Hal ini karena Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak, sehingga lonjakan harga energi akan langsung mendorong nilai impor.
Baca Juga: APBN Dibayangi Dampak Kenaikan Minyak, Ekonom Desak Realokasi Anggaran
Jika harga minyak dunia berada di kisaran US$ 75 hingga US$ 90 per barel, maka CAD Indonesia berpotensi berada di kisaran 0,7% hingga 1,0% dari PDB.
“Namun, jika harga minyak ke atas US$ 100 per barel maka CAD akan melebar ke atas 1% dari PDB,” tutur Faisal kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).
Adapun pada pada kuartal IV 2025 CAD tercatat sebesar US$ 2,5 miliar atau 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini berbalik dari kuartal III 2025 yang mencatat surplus US$ 4,0 miliar atau 1,1% dari PDB.
Faisal menilai dampak kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya negatif bagi neraca perdagangan Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga minyak biasanya diikuti oleh peningkatan harga komoditas lain, seperti batu bara, yang menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia.
Kendati demikian, Faisal mengingatkan bahwa dampak positif dari kenaikan harga komoditas kemungkinan tetap terbatas. Hal ini sejalan dengan melemahnya permintaan global di tengah perlambatan ekonomi China serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang cenderung melambat.
Sejalan dengan itu, ia memperkirakan, dengan melebarnya CAD, akan otomatis melemahkan nilia tukar rupiah.
Baca Juga: APBN Dibayangi Dampak Kenaikan Minyak, Ekonom Desak Realokasi Anggaran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













