Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktur Eksekutif Indonesia Economic Fiscal (IEF) Research Institute, Ariawan Rahmat, memprediksi penerimaan pajak tahun 2026 masih berisiko tidak mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam skenario yang dinilainya paling realistis, shortfall penerimaan pajak bahkan berpotensi mencapai Rp 95 triliun hingga Rp 120 triliun.
Ariawan mengatakan, proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi pertumbuhan penerimaan pajak sepanjang tahun hanya berada di kisaran 18% hingga 19%.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan yang dibutuhkan untuk mencapai target penerimaan pajak tahun ini.
Baca Juga: Transformasi Digital KBRI Swiss via Ekosistem Smart Embassy Tingkatkan Pelayanan WNI
"Saya sendiri memprediksi asumsi pertumbuhan setahun penuh kisaran 18%-19%. Karena itu, kemungkinan shortfall penerimaan pajak 2026 bisa mencapai sekitar Rp 95 triliun-Rp120 triliun atau kira-kira hanya 96% dari target," ujar Ariawan kepada Kontan, Minggu (28/6).
Meski demikian, Ariawan menilai terlalu dini menyimpulkan target penerimaan pajak pasti gagal hanya berdasarkan realisasi hingga pertengahan Juni.
Menurutnya, penerimaan pajak di Indonesia memiliki pola musiman yang berbeda karena sebagian besar setoran terkonsentrasi pada semester II.
"Siklus penerimaan pajak bersifat asimetris dan biasanya terakselerasi di kuartal ketiga dan keempat, seiring percepatan penyerapan anggaran belanja pemerintah. Peningkatan belanja ini nantinya akan memicu multiplier effect pada penerimaan pajak," jelasnya.
Ia menambahkan, karakter penerimaan pajak Indonesia memang cenderung back-loaded atau menumpuk pada paruh kedua tahun.
Hal itu didorong oleh pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) Badan tahunan, meningkatnya angsuran PPh Pasal 25, pembayaran PPh Pasal 29, hingga puncak penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada akhir tahun.
Oleh karena itu, menurut Ariawan, capaian penerimaan pajak hingga pertengahan Juni yang baru mencapai 39,62% dari target masih belum keluar dari pola musiman.
"Per pertengahan Juni ini bahkan belum tutup bulan, capaian hampir 39,62% itu memang sedikit di bawah ritme ideal, tapi belum keluar dari pola musiman," katanya.
Ariawan juga menyoroti bahwa secara tahunan, pertumbuhan penerimaan pajak hingga pertengahan Juni mencapai 23,4%.
Menurut perhitungannya, angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan minimal sekitar 22,95% yang dibutuhkan agar target APBN dapat tercapai.
"Artinya, secara run-rate saat ini, pertumbuhan aktual 23,4% justru sedikit di atas yang diperlukan. Jika kita bisa tetap menjaga momentum pertumbuhan, maka shortfall bisa dihindari," tegas Ariawan.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru menjaga momentum tersebut hingga akhir tahun. Menurutnya, laju pertumbuhan penerimaan hampir pasti akan melambat.
Hal itu juga sejalan dengan proyeksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memperkirakan pertumbuhan penerimaan pajak sepanjang 2026 hanya sekitar 20,5% hingga 20,6%, lebih rendah dari pertumbuhan yang dibutuhkan untuk mencapai target.
Berdasarkan kondisi tersebut, Ariawan menyusun tiga skenario penerimaan pajak hingga akhir tahun. Pada skenario optimistis, apabila pertumbuhan mampu dipertahankan di level 23,4%, penerimaan pajak diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.366 triliun atau memenuhi 100% target APBN.
Sementara pada skenario moderat, apabila pertumbuhan mengikuti proyeksi pemerintah sebesar 20,5%-20,6%, penerimaan diperkirakan mengalami shortfall sekitar Rp 45 triliun hingga Rp 50 triliun atau mencapai sekitar 98% dari target.
Adapun pada skenario yang dianggap paling realistis, pertumbuhan penerimaan hanya berada di kisaran 18%-19%, sehingga potensi shortfall melebar menjadi Rp 95 triliun hingga Rp 120 triliun.
Sebagai informasi, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak neto hingga 16 Juni 2026 mencapai Rp 940,31 triliun.
Realisasi tersebut tumbuh 23,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan setara dengan 39,62% dari target penerimaan pajak dalam APBN 2026 sebesar Rp 2.357,7 triliun.
Baca Juga: Prabowo Janji Tambah Beasiswa Doktor untuk Dosen Perguruan Tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














