Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. JAKARTA. Penggunaan perangkat digital oleh anak-anak di Indonesia menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut durasi screen time anak saat ini mencapai sekitar 5 hingga 7 jam per hari. Simak dampak negatif durasi screen time terlalu lama bagi kesehatan anak-anak.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Pemuda dan Startup, Alfreno Kautsar Ramadhan, mengatakan tingginya durasi penggunaan perangkat digital menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat perlindungan anak di ruang digital.
"Teman-teman harus mengerti bahwa hari ini screen time anak-anak itu kurang lebih menyentuh 5 sampai 7 jam sehari," kata Alfreno dalam acara Hari Game Indonesia di Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Alfreno, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memberikan perhatian besar terhadap pengawasan ruang digital, khususnya untuk memastikan anak-anak terlindungi dari berbagai risiko penggunaan internet.
Baca Juga: Pemerintah Bakal Guyur Subsidi Mobil Listrik hingga 40%, Begini Kesiapan Kemenperin
PP Tunas lindungi anak di ruang digital
Pemerintah telah menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
Regulasi tersebut menjadi salah satu landasan pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak ketika menggunakan layanan digital. Implementasi penundaan akses bagi anak pada platform berisiko tinggi mulai diterapkan pada 28 Maret 2026, dengan batas usia 16 tahun.
Namun, menurut Alfreno, perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya dilakukan melalui pembatasan akses terhadap platform.
Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah penggunaan gim online secara berlebihan yang dapat berujung pada kecanduan.
"PP Tunas itu menargetkan platform, namun what if ada orang-orang yang sudah affected, mostly by games. Kita bisa lihat bahwa enggak semua game itu edukasional," ujar Alfreno.
Tonton: Prabowo Coba Genteng Dibanting hingga Minum Air Laut Hasil Riset BRIN
Komdigi sediakan layanan DARA
Untuk anak yang sudah menunjukkan indikasi kecanduan gim atau penggunaan ruang digital secara berlebihan, Komdigi menyediakan layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA).
Layanan tersebut diluncurkan Komdigi pada Februari 2026 sebagai platform bimbingan dan konsultasi untuk membantu anak dan keluarga menghadapi persoalan kecanduan gim.
DARA menyediakan ruang konsultasi yang aman dan privat. Pengguna juga dapat memperoleh informasi mengenai gejala kecanduan, mengikuti asesmen, hingga mendapatkan rekomendasi tindak lanjut dan rujukan konsultasi apabila diperlukan.
Alfreno mengatakan orang tua perlu mengenali perubahan perilaku anak sebagai salah satu langkah awal untuk mengetahui kemungkinan adanya masalah adiksi digital.
"Kalau orang tua sudah merasa anaknya ternyata temperamen atau mungkin mereka jadi sedikit kikuk, enggak mau bersosialisasi dengan orang lain, ini kan tanda-tanda adiksi," katanya.
Melalui DARA, pemerintah berharap orang tua tidak hanya melakukan pembatasan penggunaan gawai, tetapi juga mendapatkan pendampingan ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda kecanduan gim.
Layanan ini menjadi bagian dari pendekatan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pengaturan platform digital, tetapi juga memberikan dukungan kepada anak dan keluarga yang sudah menghadapi persoalan adiksi digital.
Tonton: Prabowo Klaim Pendapatan Danantara Naik 400% dalam Setahun
Dampak Screen Time Terlalu Lama
Dilansir dari website resmi Universitas Airlangga Surabaya, screen time terlalu lama berisiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan (overweight), obesitas, resistensi insulin, dan sindrom metabolik. Secara spesifik, screen time sedang meningkatkan risiko overweight 5,6 kali dan obesitas 3,7 kali dibanding kelompok dengan screen time yang direkomendasikan; risiko resistensi insulin (IR) naik 4,1 kali, dan risiko metabolic syndrome (MetS) meningkat hingga 2,2 kali; lebih mencengangkan, screen time berat dikaitkan dengan kenaikan risiko MetS hingga 32 kali lipat.
Hal ini berdasarkan penelitian Unair terhadap remaja di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. Penelitian melibatkan 113 remaja.
Dampak negatif lainnya adalah, kadar insulin dan nilai HOMA-IR lebih tinggi pada kelompok dengan screen time panjang, menunjukkan adanya kecenderungan menuju gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2 di masa depan. Waktu layar yang berlebihan juga berdampak pada durasi tidur.
Remaja dengan screen-time lebih dari tiga jam per hari tidur lebih singkat dibanding kelompok lainnya. Paparan cahaya biru dari layar menghambat produksi hormon melatonin yang mengatur pola tidur. Akibatnya, kualitas dan konsistensi tidur menurun, yang selanjutnya memperburuk keseimbangan metabolik tubuh.
Selain tidur, aktivitas fisik menjadi korban lain. Waktu yang dihabiskan di depan layar mengurangi waktu bergerak, sehingga meningkatkan perilaku sedentari. Kombinasi kurang gerak, pola makan tidak sehat, dan kurang tidur menjadi faktor yang mempercepat penumpukan lemak tubuh dan gangguan regulasi insulin.
Penelitian ini menegaskan bahwa pengawasan orang tua dan regulasi waktu layar sangat penting. Bukan hanya untuk menjaga kesehatan mata atau konsentrasi belajar, tetapi juga untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik di usia muda.
WHO merekomendasikan waktu layar tidak lebih dari dua jam per hari bagi anak dan remaja, namun kenyataannya sebagian besar melebihi batas ini. Selain itu, diperlukan edukasi digital parenting yang menekankan keseimbangan antara penggunaan teknologi, aktivitas fisik, dan pola tidur sehat. Program intervensi berbasis sekolah dan keluarga dapat menjadi strategi efektif untuk menurunkan durasi screen time secara bertahap.
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/08/08/17490401/komdigi-ungkap-anak-indonesia-gunakan-ponsel-habiskan-5-7-jam-sehari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
