kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45863,16   -14,36   -1.64%
  • EMAS920.000 -0,86%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

HIPMI: Lebaran menjadi momentum keluar dari jurang resesi


Minggu, 16 Mei 2021 / 17:47 WIB
HIPMI: Lebaran menjadi momentum keluar dari jurang resesi
ILUSTRASI. Petugas teller memperlihatkan uang pecahan Rp 75.000./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/07/05/2021.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai, perayaan Idul Fitri bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk keluar dari jurang resesi. Pasalnya, dalam periode ini daya beli masyarakat cenderung meningkat. 

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi Ajib Hamdani mengatakan, pada momentum Idul Fitri, pemerintah sudah memberikan tunjangan hari raya (THR), sehingga masyarakat memiliki uang untuk berbelanja. Dengan begitu, kegiatan ekonomi pun meroket. Bahkan, momentum lebaran di tahun ini bisa menjadi puncak transaksi ekonomi. 

“Data pemerintah menunjukkan terjadi perputaran dana THR di kisaran Rp 150 triliun. Bila dibandingkan dengan data PDB tahun 2020 yang sebesar Rp 15.434,2 triliun, maka dana perputaran THR ini bisa memberi kontribusi sebesar 1% dari PDB,” ujar Ajib kepada Kontan.co.id. 

Meningkatnya daya beli masyarakat di momentum lebaran ini bisa menjadi salah satu pendongkrak dan penopang harapan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 untuk di kisaran target pemerintah, bahkan hingga akhir tahun 2021. 

Baca Juga: Harapan Hipmi setelah harga vaksin gotong royong diterima pengusaha

Namun, ia memesan pemerintah jangan berpuas diri bila nantinya kuartal kedua ini pertumbuhan meningkat signifikan. Pemerintah tetap harus menjaga ritme daya beli masyarakat, salah satunya dengan menekan potensi inflasi yang berlebihan. 

Potensi inflasi yang meningkat ini menurut Ajib, misalnya terjadi karena kebijakan pajak yang tidak tepat seperti peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bila ini terjadi, maka secara langsung bisa mengurangi tingkat kesejahteraan masyarakat. 

“Oleh karena itu, jangan sampai pemerintah mengeluarkan regulasi yang kontraproduktif terhadap sentimen ekonomi di lapangan, misalnya opsi menaikkan tarif pajak tersebut,” tambahnya. 

Lebih lanjut, dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga, diharapkan ini mampu memberikan multiplier effect (efek berkelanjutan), salah satunya dengan tumbuhnya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Apalagi, sektor UMKM ini juga memberikan kontribusi yang jumbo terhadap perekonomian Indonesia, yaitu sekitar 60% dari PDB.

Dengan demikian, diharapkan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di kisaran target pemerintah yang sebesar 6,7% hingga 7% pada kuartal II-2021 dan 4,5% hingga 5,5% pada keseluruhan tahun 2021. 

Selanjutnya: Kenaikan Tarif PPN Bisa Menjegal Pemulihan Ekonomi

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Maximizing Leadership Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale

[X]
×