kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hingga Agustus, realisasi penyaluran KUR sudah mencapai Rp 102 triliun


Rabu, 16 Oktober 2019 / 12:12 WIB
Hingga Agustus, realisasi penyaluran KUR sudah mencapai Rp 102 triliun
ILUSTRASI. Perajin menyelesaikan pembuatan kacamata dari bahan kayu di Tangerang Selatan, Rabu (10/7). Kemeterian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Agustus 2019 senilai Rp 102 triliun. KONTAN/Baihaki/10

Reporter: Vendi Yhulia Susanto | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemeterian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Agustus 2019 senilai Rp 102 triliun.

"Realisasi penyaluran KUR pada periode 1 Januari sampai dengan 31 Agustus 2019 adalah Rp 102 triliun dan diberikan kepada 3,6 juta debitur," ujar Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir, Rabu (16/10).

Baca Juga: BNI menginisiasi program cetak 1.000 agripreneur di pedesaan

Iskandar bilang, penyaluran KUR di bidang busana dan produk turunannya sebesar Rp 1,13 Triliun kepada 45,1 ribu debitur. Penyaluran KUR tertinggi berada di Sektor Industri Pakaian Jadi dan Perlengkapan sebesar Rp 770 Miliar atau sebesar 67,6% dari total penyaluran.

Lebih lanjut, Iskandar mengatakan, total realisasi penyaluran KUR dari Agustus 2015 s.d 31 Agustus 2019 sebesar Rp435,4 triliun kepada 17,5 juta debitur dengan NPL tetap terjaga sebesar 1,31%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, target penyaluran KUR sebesar 60% ke sektor produksi sepertinya tidak akan tercapai. Sebab itu, Ia menilai penyaluran KUR kedepannya perlu diperluas dan masuk lebih dalam ke produksi sektor jasa.

Selain itu, pihaknya mendorong agar KUR diberikan kepada kelompok, kluster atau komunitas agar terdapat kontrol satu sama lainnya. Kemudian, perlu ada upaya memperbaiki standard produk UMKM melalui program pelatihan atau vokasi.

Baca Juga: Penyaluran kredit ke industri kreatif masih rendah, ini sebabnya

"Kemudian lebih penting lagi off taker, ada yang membeli produknya tentu kalau standard nya terpenuhi, kalo standar tidak dipenuhi harus ada solusinya seperti apa, itu dia yang diperlukan," ujar Darmin.




TERBARU

Close [X]
×