kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.057   49,00   0,27%
  • IDX 6.270   35,03   0,56%
  • KOMPAS100 823   5,11   0,62%
  • LQ45 627   3,56   0,57%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 352   2,23   0,64%
  • IDXHIDIV20 433   2,26   0,53%
  • IDX80 94   0,50   0,54%
  • IDXV30 119   0,29   0,24%
  • IDXQ30 112   0,58   0,52%

Harga Pangan Masih Berfluktuasi pada Agustus, El Nino Jadi Ancaman Utama


Selasa, 04 Agustus 2026 / 09:57 WIB
Harga Pangan Masih Berfluktuasi pada Agustus, El Nino Jadi Ancaman Utama
ILUSTRASI. Inflasi Jawa Tengah Juli 2026-Pekerja memilah bawang putih impor (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas harga pangan pada bulan Agustus 2026 ini.

Meski beberapa komoditas mulai menunjukkan penurunan harga, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino dan belum optimalnya distribusi diperkirakan masih akan membuat harga pangan berfluktuasi sepanjang bulan ini.

Data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menunjukkan, harga cabai merah keriting pada awal Agustus turun menjadi Rp 47.000 per kilogram (kg).

Baca Juga: Ikappi Wanti-Wanti El Nino Bisa Picu Gagal Panen dan Lonjakan Harga Pangan

Namun, harga cabai rawit merah justru naik menjadi Rp 56.000 per kg, sementara cabai merah besar berada di kisaran Rp 49.000 per kg.

Komoditas lain juga masih bergerak beragam. Harga bawang merah tercatat sekitar Rp 45.000 per kg, bawang putih Rp 43.000 per kg, daging ayam Rp 43.000 per kg, dan telur ayam sekitar Rp 27.000 per kg.

Sementara itu, harga Minyakita relatif stabil di kisaran Rp 15.700-Rp 16.000 per liter. Bahkan, di sejumlah daerah, harga Minyakita masih bertahan di level harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.

Sekretaris Jenderal Ikappi Reynaldi Sarijowan menilai cuaca menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi pergerakan harga pangan.

Menurutnya, dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga tahun depan mulai menekan produksi dan pasokan sejumlah komoditas. "Faktor iklim sangat memengaruhi produksi dan pasokan pangan," tegas Reynaldi.

Baca Juga: Harga Pangan Masih akan Bergejolak pada Agustus

Di sisi lain, Ikappi menilai program makan bergizi gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan. Namun, hingga kini program tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan komoditas di pasar tradisional.

Ikappi berharap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat lebih banyak menyerap hasil pertanian dari pasar dan sentra produksi di daerah.

Selain cuaca, Ikappi juga menyoroti persoalan distribusi yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah. Rantai pasok yang panjang dari produsen hingga konsumen membuat harga lebih rentan bergejolak ketika pasokan terganggu.

Baca Juga: El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global

Karena itu, Ikappi memperkirakan harga pangan sepanjang Agustus masih bergerak bervariasi.

Beberapa komoditas diperkirakan melanjutkan tren penurunan, tetapi sebagian lainnya masih berpotensi naik apabila pemerintah tidak segera memperkuat pasokan dan memperlancar distribusi pangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×