Reporter: Nurtiandriyani Simamora, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan, defisit APBN hingga akhir 2026 berpotensi mencapai 2,85%–2,95% terhadap PDB.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah penundaan pembayaran kompensasi pemerintah kepada PT Pertamina dan PT PLN demi menjaga defisit tetap di bawah 3% terhadap PDB.
Namun, langkah tersebut tidak menghapus kewajiban pemerintah, melainkan menggeser beban fiskal ke tahun berikutnya.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Menguat, Analis Proyeksikan Tren Bullish Berlanjut
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai tekanan ekonomi berisiko mendorong defisit anggaran mendekati 3% terhadap PDB. Meski demikian, defisit masih berpeluang dipertahankan di sekitar 2,85% sesuai outlook pemerintah.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu melakukan penghematan belanja sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan PDB nominal.
Dengan ruang fiskal yang berpotensi semakin terbatas, kemampuan pemerintah mengendalikan belanja dan mengantisipasi kenaikan kewajiban subsidi serta kompensasi energi akan menjadi penentu ketahanan APBN hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














