Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo
KONTAN.CO.ID - LABUAN BAJO. Duka pascabencana gempa bumi yang mengguncang bumi Flores, perlahan berganti menjadi secercah harapan bagi warga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Riuh hangat rasa kebersamaan membuncah di Labuan Bajo, Selasa (27/10) saat tak kurang dari seribu warga berkumpul, menerima bantuan kemanusiaan dari Tahir Foundation.
Momen tersebut mempertemukan jajaran pemerintah daerah dan masyarakat dari empat wilayah terdampak, yakni Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Nagekeo. Hadir dalam kesempatan itu pendiri Tahir Foundation, Dato Sri Tahir bersama aparat pemerintahan setempat.
Dalam aksi nyata kemanusiaan tersebut, sebanyak 1.000 warga menerima tunai senilai Rp 1 juta per keluarga. Tahir juga berkomitmen membangun 200 unit hunian bagi korban gempa yang rumahnya rusak berat, dengan target waktu penyelesaian sekitar enam bulan. Tahir menyebut, tim kontraktor sudah disiapkan untuk hal tersebut.
Di hadapan warga yang memadati lokasi acara, Tahir menyampaikan refleksi kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan mendalam yang menjadi pendorong aksinya. Sebagai seorang filantrop yang telah menjelajahi berbagai wilayah bencana mulai dari Aceh, Padang, Jawa Tengah, NTB, Papua, hingga Palu, dia merasa dipanggil oleh kewajiban moral untuk hadir di tanah Flores.
"Justru Bapak-bapak, Ibu-ibu yang menyelamatkan saya supaya saya menjadi orang yang tahu diri, bisa mawas diri dan bisa bermanfaat bagi banyak orang, saudara-saudara kita," tutur Tahir.
Dalam sambutannya, Emanuel Melkiades Laka Lena Gubernur NTT mengimbau seluruh warga penerima bantuan agar bijak menggunakan dana tunai itu dan benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.
Ahmad Lumanto, salah seorang warga terdampak yang tinggal bersama satu anaknya menceritakan hingga dua bulan pascabencana, kondisi tempat tinggalnya masih memperlihatkan dinding-dinding yang retak dan belum tersentuh perbaikan. Ketiadaan biaya menjadi penghalang utama baginya untuk membangun kembali tempat bernaung yang aman bagi buah hatinya.
Kendati sangat bersyukur atas bantuan tunai yang diterima dari Tahir Foundation, Ahmad mengakui bahwa kebutuhan fisik berupa bahan bangunan menjadi hal yang sangat mendesak. "Kebanyakan karena banyak bangunan yang agak hancur, mungkin material yang pentingnya semen, pasir, batu," ungkap Ahmad.
Beban hidup masyarakat kian berat lantaran cuaca kemarau di musim yang seharusnya hujan menyulitkan pengelolaan lahan pertanian sebagai sumber mata pencaharian harian warga. Kondisi ekonomi yang terpuruk membuat uluran tangan berupa material fisik bangunan dan bantuan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














