Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi memicu kekhawatiran migrasi konsumen ke BBM subsidi atau Pertalite (RON 90). Pemerintah mewanti-wanti agar masyarakat kelas atas tidak mengambil jatah subsidi yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tidak mampu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menekankan bahwa BBM subsidi harus tepat sasaran. Ia meminta pejabat hingga kalangan mampu untuk tetap menggunakan BBM non subsidi meskipun terjadi penyesuaian harga.
"Saya cuma sampaikan saja BBM subsidi itu untuk saudara-saudara kita yang berhak. Jangan (orang-orang seperti) saya, Dirjen, Wamen, karena harga BBM RON 98 naik tiba-tiba mereka masuk ke subsidi. Itu kita mengambil hak saudara-saudara kita yang berhak menerima itu. Apa enggak malu kita?" ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Bikin Penerimaan Melempem, Ini Sektor Paling Banyak Minta Restitusi Pajak di 2025
Bahlil mengungkapkan, pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat terhadap penyaluran BBM di lapangan. Salah satu skema yang disiapkan adalah pembatasan volume pembelian harian bagi kendaraan tertentu.
"Waktu di Seoul, Korea, saya menyampaikan bahwa BBM-nya itu akan diberikan per hari 50 liter. 50 liter itu kan tangki sudah penuh, cukup bisa 400 kilo meter (km) itu. 300 km lebih. Sebagai mantan sopir angkot, ya itu pengalaman saya. Terkecuali ada maksud lain kalau isi lebih dari itu," ungkapnya.
Meski demikian, Bahlil memberikan catatan, pembatasan tersebut tidak akan dipukul rata, terutama bagi sektor produktif yang menopang hajat hidup orang banyak.
"Tapi itu tidak berlaku untuk bis, truk-truk yang mengangkut beras, mengangkut sayur, logistik. Jangan truk yang dipakai untuk kelapa sawit sama tambang," lanjutnya.
Merespons fenomena di media sosial mengenai adanya pengendara motor dengan tangki besar yang berulang kali mengisi Pertalite, Bahlil mengimbau kesadaran moral masyarakat.
"Ya itu kembali, kita harus punya hati. Janganlah kau pakaikan (pertalite), janganlah kau bolak-balik. Kasihan rakyat kita. Cari rezeki itu penting tapi yang baik-baik," tegasnya.
Baca Juga: Bulog Siap Bangun Gudang Baru, 88 Titik Sudah Clear and Clean
Lebih lanjut, Bahlil menyatakan bahwa pengawasan secara fisik memang ada, namun integritas diri adalah kunci utama dalam penyaluran subsidi.
"Pengawasan itu ada, Tetapi yang terpenting itu adalah insyaf ada di diri kita. Malu tidak kalau kita diawasi terus?" pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













