kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.950   -23,00   -0,13%
  • IDX 6.042   158,10   2,69%
  • KOMPAS100 788   24,24   3,17%
  • LQ45 595   17,11   2,96%
  • ISSI 209   5,50   2,71%
  • IDX30 337   9,80   2,99%
  • IDXHIDIV20 413   11,25   2,80%
  • IDX80 89   2,65   3,06%
  • IDXV30 112   3,11   2,86%
  • IDXQ30 108   3,19   3,04%

Gubernur BI mengaku gemas, mengapa?


Selasa, 19 Juli 2016 / 09:20 WIB


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari penyusunan anggaran pemerintah. Dalam rapat kerja antara pemerintah dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakayat (DPR) kemarin, Agus mengaku akan mendorong proses reformasi penyusunan anggaran.

Padahal, biasanya Agus jarang mengomentari kebijakan pemerintah termasuk tata cara penyusunan anggaran. Namun kali ini ia tidak bisa menahan diri, karena merasa gemas, setelah salah satu anggota Komisi XI mendorong pemerintah untuk memperbaiki penyusunan perencanaan.

Penyusunan perencanaan anggaran dinilai tidak baik dan harus dipebaiki, karena setiap tahun realisasinya selalu meleset. "Reformasi anggaran kalau bukan sekarang kapan lagi," ujar Agus, Senin (18/7) di Jakarta.

Namun, ia mendorong langkah itu bisa mulai dilakukan oleh DPR, khususnya Komisi XI. Mengingat, penyusunan anggaran selalu melibatkan DPR, walaupun diajukan oleh pemerintah.

Agus bahkan, menyarankan DPR untuk berkonsultasi dengan mantan Menteri Keuangan dan juga mantan Wakil Presiden Boediono. Boediono dianggap memiliki kemampuan yang lebih dalam menyusun anggaran.

Menurutnya, Boediono dianggap mampu mengelola ruang fiskal ketika Indonesia dalam masa pemulihan dari krisis moneter tahun 2001-2004. "Itu hanya masukan, karena saya gemas," katanya.

Beberapa hal yang harus didiskusikan mengenai penyusunan anggaran diantaranya terkait pokok-pokok kebijakan fiskal, termasuk dalam penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). SBN diterbitkan untuk menutupi defisit anggaran.

Selama ini, penerbitan SBN dalam bentuk valuta asing selalu mendapatkan respon yang lebih negatif dibandingkan dengan SBN mata uang rupiah. Padahal, dalam kondisi saat ini, penerbitan SBN valas jauh lebih murah dibandingkan SBN mata uang domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×