kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Gubernur BI mengaku gemas, mengapa?


Selasa, 19 Juli 2016 / 09:20 WIB


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari penyusunan anggaran pemerintah. Dalam rapat kerja antara pemerintah dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakayat (DPR) kemarin, Agus mengaku akan mendorong proses reformasi penyusunan anggaran.

Padahal, biasanya Agus jarang mengomentari kebijakan pemerintah termasuk tata cara penyusunan anggaran. Namun kali ini ia tidak bisa menahan diri, karena merasa gemas, setelah salah satu anggota Komisi XI mendorong pemerintah untuk memperbaiki penyusunan perencanaan.

Penyusunan perencanaan anggaran dinilai tidak baik dan harus dipebaiki, karena setiap tahun realisasinya selalu meleset. "Reformasi anggaran kalau bukan sekarang kapan lagi," ujar Agus, Senin (18/7) di Jakarta.

Namun, ia mendorong langkah itu bisa mulai dilakukan oleh DPR, khususnya Komisi XI. Mengingat, penyusunan anggaran selalu melibatkan DPR, walaupun diajukan oleh pemerintah.

Agus bahkan, menyarankan DPR untuk berkonsultasi dengan mantan Menteri Keuangan dan juga mantan Wakil Presiden Boediono. Boediono dianggap memiliki kemampuan yang lebih dalam menyusun anggaran.

Menurutnya, Boediono dianggap mampu mengelola ruang fiskal ketika Indonesia dalam masa pemulihan dari krisis moneter tahun 2001-2004. "Itu hanya masukan, karena saya gemas," katanya.

Beberapa hal yang harus didiskusikan mengenai penyusunan anggaran diantaranya terkait pokok-pokok kebijakan fiskal, termasuk dalam penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). SBN diterbitkan untuk menutupi defisit anggaran.

Selama ini, penerbitan SBN dalam bentuk valuta asing selalu mendapatkan respon yang lebih negatif dibandingkan dengan SBN mata uang rupiah. Padahal, dalam kondisi saat ini, penerbitan SBN valas jauh lebih murah dibandingkan SBN mata uang domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×