kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Gerindra nilai asumsi makro 2011 terlalu normatif


Selasa, 24 Agustus 2010 / 12:58 WIB


Reporter: Lamgiat Siringoringo | Editor: Edy Can

JAKARTA. Semakin banyak fraksi yang tak setuju dengan asumsi makro yang dipasang pemerintah pada tahun depan. Selain fraksi Partai Golkar, PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera maka kali ini giliran Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Fraksi Partai Gerindra menilai asumsi makro 2011 sangat normatif dan tidak ada pertumbuhan yang signifikan. Partai berlogo garuda ini mengatakan, pemerintah seharusnya menggali potensi pertumbuhan ekonomi untuk rakyat. "Harusnya dua sektor manufaktur dan pertanian jadi andalan untuk pertumbuhan," ujar Juru bicara fraksi Partai Gerindra Fary Djemy Francis saat membacakan pandangan fraksinya soal RAPBN 2011, Selasa (24/8).

Tahun depan, pemerintah mematok angka pertumbuhan sebesar 6,3%. Bagi Gerindra, target pertumbuhan ekonomi itu terlalu rendah.

Fraksi Gerindra juga menyoroti anggaran besar Kementerian Pekerjaan Umum yang sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah perkotaan. Selain itu, penyerapan anggaran di Kementerian Pekerjaan Umum juga tidak terlalu kencang dan tidak pernah terserap secara penuh.

Fraksi Gerindra juga melihat ketidaksiapan pemerintah dalam masuknya aliran dana dari asing dalam SBI dan pasar modal. Dana ini bersifat spekulatif dan perlu ada program pemerintah untuk mencegah kaburnya aliran dana ini. Menurut Gerindra, pemerintah juga perlu mengurangi utang luar negeri yang membuat terbeban bunganya setiap tahunnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×